Mengenal Kelong Tu Panrita, Syair Bahasa Makassar Penanam Nilai-Nilai Akidah

  • 27 Jul 2026 12:17 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kelong Tu Panrita bukan sekadar karya sastra, melainkan media dakwah strategis yang digunakan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam di Sulawesi Selatan. Hal ini diungkapkan Prof. Dr. H. Bahaking Rama, M.S di program acara Apresiasi Budaya di Pro 4 RRI Makassar Minggu, 26 Juli 2026, "Tradisi lisan berupa syair berbahasa Makassar ini terbukti efektif menanamkan nilai-nilai keagamaan, khususnya aspek akidah, secara harmonis di tengah masyarakat," ungkap Prof. Dr. H. Bahaking.

Ketua Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam UMI Makassar ini menjelaskan, kehadiran Kelong Tu Panrita berawal dari tantangan bahasa pada masa awal penyebaran Islam. Lebih lanjut Bahaking menambahkan, penyebaran agama yang dipelopori oleh Dato ri Bandang, Dato ri Tiro, dan Dato Patimang sempat terkendala karena masyarakat lokal belum menguasai bahasa Arab maupun Melayu.

"Para ulama lokal kemudian mencari metode dakwah yang lebih mudah diterima masyarakat dengan menggunakan bahasa Makassar. Dari situlah lahir syair-syair Kelong Tu Panrita yang berisi ajaran Islam, terutama mengenai akidah, agar masyarakat lebih mudah memahami keimanan," ujar Prof. Bahaking di Makassar, Minggu, 26 Juli 2026.

Guru besar Unismuh Makassar menerangkan, nilai-nilai tauhid yang terkandung di dalam syair tersebut merupakan wujud penerjemahan dari ayat-ayat suci Al-Qur'an seperti Surah Al-Ikhlas dan Al-Fatihah. "Melalui pendekatan budaya ini, pesan mengenai kekuasaan mutlak Allah SWT dapat diserap tanpa menghilangkan akar identitas local," terang Prof. Bahaking Rama.

"Ulama terdahulu tidak menghilangkan budaya masyarakat, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Inilah yang menjadi kekuatan dakwah pada masa itu, di mana budaya tetap hidup dan nilainya diarahkan pada ajaran agama," tegasnya.

Prof. Bahaking mengungkapkan, penggunaan media lokal seperti Kelong Tu Panrita memiliki kemiripan fungsi dengan kesenian wayang yang dimanfaatkan oleh Wali Sanga di Pulau Jawa. Ia menambahkan, pendekatan persuasif dan adaptif ini terbukti mampu meluruskan kepercayaan masyarakat terdahulu menuju konsep tauhid murni.

Menurut Ketua Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam UMI Makassar ini, keberhasilan metode dakwah ini membuktikan kecerdasan para ulama dalam membaca realitas sosial masyarakat pada zamannya. Hingga kini, Kelong Tu Panrita diakui sebagai warisan intelektual dan spiritual yang sangat berharga bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....