La Galigo, Epik Bugis Warisan Dunia dari Sulawesi Selatan
- 05 Jun 2026 18:34 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar– La Galigo merupakan karya sastra epik masyarakat Bugis yang menjadi salah satu warisan budaya paling berharga dari Sulawesi Selatan. Karya yang juga dikenal sebagai Sureq Galigo ini ditulis dalam bahasa dan aksara Bugis serta diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-14.
Dilansir dari mow.anri.go.id. La Galigo mengisahkan mitologi asal-usul masyarakat Bugis, dimulai dari turunnya Batara Guru dari dunia atas ke wilayah Luwu, Sulawesi Selatan, hingga kisah keturunannya, terutama Sawérigading dan putranya, La Galigo. Karya ini ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum yang ketat dan menggunakan kosakata Bugis klasik yang dikenal indah sekaligus kompleks.
Dengan jumlah sekitar 6.000 halaman folio, La Galigo dianggap sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia, bahkan melebihi epik terkenal seperti Ramayana dan Mahabharata.
Naskah-naskah La Galigo saat ini tersebar di berbagai wilayah dunia. Selain tersimpan dalam koleksi pribadi di Sulawesi Selatan, sejumlah naskah juga berada di Jakarta, Leiden di Belanda, London dan Manchester di Inggris, Berlin di Jerman, serta Washington DC di Amerika Serikat. Seluruh naskah tersebut merupakan bagian dari warisan sastra Indonesia meskipun berada di lokasi yang berbeda.
Tidak ada satu pun naskah yang memuat keseluruhan cerita La Galigo. Setiap naskah berisi fragmen atau bagian tertentu dari keseluruhan karya. Karena itu, seluruh naskah yang tersebar di berbagai tempat memiliki nilai yang sama pentingnya dalam kajian filologi dan pelestarian warisan budaya.
Pengakuan dunia terhadap nilai penting La Galigo semakin kuat setelah UNESCO menetapkannya sebagai program Memory of the World (MoW) pada tahun 2011. Penetapan tersebut dilakukan melalui nominasi bersama antara Museum La Galigo di Makassar dan Leiden University Libraries.
Salah satu naskah penting yang masuk dalam nominasi tersebut adalah naskah koleksi Museum La Galigo dengan kode 2610/07.114 berjudul Sawérigading dan La Galigo ke Senrijawa. Naskah yang diperkirakan ditulis pada paruh pertama abad ke-19 itu terdiri atas 217 halaman dan memuat kisah perjalanan Sawérigading bersama putranya ke Senrijawa.
Sementara itu, naskah koleksi Perpustakaan Universitas Leiden dengan kode NBG-Boeg 188 menjadi fragmen terpanjang yang diketahui hingga saat ini. Naskah tersebut terdiri atas 12 volume dengan total 2.851 halaman folio atau sekitar sepertiga bagian pertama dari keseluruhan karya La Galigo.
Naskah tersebut ditulis pada pertengahan abad ke-19 oleh Colliq Pujié, seorang bangsawan Bugis yang dikenal berperan besar dalam pelestarian sastra Bugis. Ia bekerja sama dengan B. F. Matthes dalam mendokumentasikan warisan sastra tersebut.
Keberadaan La Galigo hingga kini menjadi bukti kekayaan tradisi literasi Nusantara serta memperlihatkan tingginya peradaban masyarakat Bugis dalam menghasilkan karya sastra yang bernilai budaya, sejarah, dan kemanusiaan bagi dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....