Dr. Meisar Ashari: Kawali Bugis Simbol Kehormatan dan dan Tanggung Jawab

  • 24 Jul 2026 07:11 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi, eksistensi Kawali atau badik Bugis masih sering disalahpahami oleh masyarakat luas. Tidak sedikit orang yang memandang warisan budaya tersebut hanya sebagai benda pusaka, alat tradisional, atau bahkan senjata tajam yang identik dengan tindakan kekerasan.

Pandangan tersebut mendapat tanggapan dari Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Meisar Ashari, M.Sn. Menurutnya, Kawali bukan sekadar benda fisik, melainkan simbol budaya yang mengandung nilai moral, etika, dan filosofi kehidupan masyarakat Bugis yang telah diwariskan secara turun-temurun.

"Bagi masyarakat Bugis, Kawali telah keluar dari batasan fungsi praktisnya sebagai senjata tajam. Ini adalah manifestasi fisik dari kebudayaan spiritual dan sosial mereka," ujar Dr. Meisar dalam program Apresiasi Budaya Lokal di RRI Pro 4 Makassar, Rabu, 22 Juli 2026.

Ia menilai pemahaman terhadap makna filosofis Kawali penting agar generasi muda tidak hanya melihatnya dari sisi bentuk atau fungsi fisiknya. Dalam pemaparannya, Dr. Meisar menjelaskan bahwa pada masa adat Bugis kuno, Kawali memiliki hubungan erat dengan hukum adat dan proses pendewasaan seseorang.

"Seorang remaja laki-laki dinyatakan memasuki fase dewasa melalui prosesi penyandangan badik atau ripatappi kawali, yang menjadi simbol bahwa dirinya telah memiliki tanggung jawab penuh atas setiap tindakan yang dilakukan," kata Dr. Meisar.

Lebih jauh, Kawali juga menjadi lambang dari dua nilai utama dalam falsafah Bugis, yakni Pangadereng sebagai sistem norma adat dan Siri' yang bermakna harga diri serta kehormatan. Menurut Dr. Meisar, kedua nilai tersebut merupakan fondasi kehidupan masyarakat Bugis yang harus dijaga dalam setiap aspek kehidupan.

"Jika pangadereng dan siri' hilang dari dalam diri seseorang, maka kepercayaan Bugis memandang bahwa fitrah kemanusiaannya pun ikut hilang dan hidupnya menjadi tidak berguna," jelasnya. "Kawali tidak hanya merepresentasikan keberanian, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kehormatan, etika, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat."

Dr. Meisar juga meluruskan anggapan mengenai pepatah yang menyebut orang Bugis pantang menyarungkan kembali badiknya sebelum melihat darah. Menurutnya, ungkapan tersebut bukan ajakan untuk melakukan kekerasan, melainkan sebuah simbol bahwa setiap persoalan harus dihadapi hingga tuntas dengan penuh tanggung jawab dan keberanian.

"Ketika orang Bugis mengeluarkan kawalinya, berarti di situ ada masalah. Dan mereka pantang menyarungkannya sebelum masalah itu benar-benar selesai. Artinya, masalah itu mesti dihadapi secara jantan, bukan malah lari dari masalah," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa nilai tertinggi dalam budaya Bugis justru terletak pada kemampuan seseorang mengendalikan diri sehingga Kawali tidak perlu keluar dari sarungnya tanpa alasan yang benar.

Di era modern, penggunaan Kawali sebagai senjata memang telah dibatasi oleh ketentuan hukum yang berlaku. Meski demikian, nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap relevan untuk diwariskan melalui pendidikan dan pelestarian budaya sebagai pedoman dalam membangun karakter generasi muda.

Sebagai penutup, Dr. Meisar mengajak generasi muda meneladani filosofi anatomi Kawali yang memadukan bilah tajam dengan sarung yang indah. "Jadilah seperti Kawali di dalam sarungnya. Di dalam, Anda adalah pribadi yang terlatih, tajam, kompeten, dan tangguh. Namun di luar, yang tampak di mata masyarakat adalah pribadi yang tenang, santun, dan tidak melukai siapa pun. Kekuatan sejati bukan tentang siapa yang paling keras memukul, melainkan siapa yang paling bijak mengendalikan kekuatannya," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....