Mengantisipasi Budaya Bullying di Lingkup Pendidikan

  • 18 Apr 2026 11:57 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Bullying adalah sikap yang sangat berbahaya dan sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam karena adanya sikap agresif serta terjadi berulang terus menerus juga ada niat jahat untuk merendahkan orang lain. Hal ini di ungkapkan Muhammad Anwar, S.Pd.I.,M.Pd.I - Kepala Pembina Pesantren Putri Pondok Madinah Makassar dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Kamis, 16 April 2026.

Anwar mengatakan konflik di Pesantren Putri Pondok Madinah Makassar juga sering terjadi biasanya mereka(santriwati) memperebutkan tempat jemuran yang menurut mereka tempat tersebut banyak terkena cahaya matahari dan jemuran cepat kering. Hal tersebut yang terkadang menjadi isu dari konflik itu, hanya konflik tersebut tidak berkepanjangan karena diadakan klarifikasi oleh para pembina pondok pesantren sehingga permasalahan cepat terselesaikan dan tidak ada dendam.

“Berbeda dengan Bullying yang punya niat jahat dan terstruktur untuk menyakiti, merendahkan, serta senang atau bahagia melihat orang lain sengsara. Pesantren Putri Pondok Madinah Makassar mengajarkan untuk tidak menyakiti orang lain saling menjaga satu sama lain sesuai ajaran agama islam di mana Nabi Muhammad SAW menegaskan sejatinya umat muslim tidak menyakiti orang lain justru di ajak untuk menyelamatkan orang lain dari tangannya dan dari lisannya”, ucap Anwar.

Anwar menambahkan perundungan atau bullying di mana saja bisa terjadi, ciri-ciri siswa/siswi yang mendapatkan perundungan atau bullying di sekolah/pesantren adalah terjadinya perubahahan sikap yang biasanya siswa atau siswi datang ke sekolah/pesantren dengan sikap yang ceria dan semangat tiba-tiba mulai menarik diri dari teman-temannya .

“inilah fungsi dari seorang pendidik untuk mendekati siswa-siswinya(santri) dengan cara mencoba untuk merasakan apa yang di rasakan oleh anak/santri yang mendapatkan perundungan/bullying tersebut, contoh santri atau siswi yang biasanya mereka pulang ke rumah orang tua dan tidak mau kembali ke pesantren berarti ada sesuatu yang terjadi di luar pengawasan para pembina”,

Komunikasi dua arah yang rutin antara pihak pesantren dan orang tua dapat membantu memantau perkembangan psikologis santri secara utuh. Terkadang, perubahan perilaku santri saat pulang ke rumah bisa menjadi indikator adanya masalah di pesantren. Dengan keterbukaan informasi, setiap potensi konflik atau praktik perundungan dapat diidentifikasi dan diselesaikan secara kekeluargaan sebelum berdampak lebih luas, pungkas Anwar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....