Falsafah Bugis-Makassar Jadi Pilar Kepemimpinan Berkarakter di Era Modern
- 07 Apr 2026 23:18 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar- Nilai-nilai kearifan lokal kembali mendapat sorotan dalam pembahasan kepemimpinan di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah falsafah Bugis-Makassar yang berbunyi “Rioloi Napatiroang, Ritengga Naparaga-Raga, Rimunri Napaampiri”, yang dinilai masih relevan sebagai pedoman kepemimpinan hingga saat ini.
Dalam obrolan Apresiasi Budaya Lokal di Pro 4 RRI Makassar, pada hari senin 6 April 2026, dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Dr. M. Dalyan Tahir, M.Hum., menjelaskan bahwa falsafah tersebut mengandung makna mendalam tentang posisi dan peran pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat.
“Secara sederhana, falsafah ini menggambarkan bahwa yang berada di depan harus menjadi teladan (Rioloi Napatiroang), yang di tengah harus mampu membangun semangat dan kebersamaan (Ritengga Naparaga-Raga), dan yang berada di belakang harus memberikan dorongan serta dukungan (Rimunri Napaampiri),” ungkapnya saat diwawancarai.
Menurutnya, konsep ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam tradisi Bugis-Makassar tidak bersifat otoriter, melainkan partisipatif dan penuh tanggung jawab. Seorang pemimpin tidak hanya berperan memberi perintah, tetapi juga harus mampu menjadi contoh, penggerak, sekaligus penyemangat bagi masyarakatnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa falsafah ini juga mencerminkan nilai kebersamaan dan solidaritas yang kuat. Dalam praktiknya, kepemimpinan tidak selalu berada pada satu posisi tetap, melainkan fleksibel sesuai situasi dan kebutuhan.
“Ini menunjukkan bahwa setiap individu dalam kelompok memiliki peran penting. Kadang seseorang berada di depan sebagai panutan, di tengah sebagai penggerak, atau di belakang sebagai pendukung. Semua posisi itu sama-sama mulia,” jelasnya.
Dalam konteks kekinian, nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan untuk diterapkan, khususnya dalam dunia pendidikan, organisasi, hingga pemerintahan. Kepemimpinan yang mengedepankan keteladanan, kolaborasi, dan empati dianggap mampu menciptakan lingkungan yang harmonis dan produktif.
Dr. Dalyan juga menekankan pentingnya generasi muda untuk memahami dan mengamalkan falsafah lokal sebagai bagian dari identitas budaya. Ia mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh menghilangkan akar nilai yang telah diwariskan oleh leluhur.
“Justru di tengah arus globalisasi, kita perlu kembali pada nilai-nilai lokal yang sarat makna. Falsafah ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga panduan etika dalam memimpin dan berinteraksi sosial,” tutupnya.
Dengan demikian, falsafah “Rioloi Napatiroang, Ritengga Naparaga-Raga, Rimunri Napaampiri” tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas dan berorientasi pada kebersamaan di tengah masyarakat Bugis-Makassar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....