Massiara : Tradisi Silahturahim dan Perekat Sosial Masyarakat Bugis

  • 25 Mar 2026 09:42 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Massiara secara harfiah berasal dari bahasa Arab ziarah yang artinya berkunjung dengan mendapatkan awalan kata Ma yang berarti melakukan kunjungan. Hal ini di ungkapkan Prof. Dr. Gusnawaty, M. Hum (Dosen Departemen Sastra Daerah FIB Unhas) dalam Obrolan Inspirasi Budaya di Pro 4 RRI Makassar edisi Senin 23 Maret 2026.

Gusnawaty mengatakan dulu sekitar lima hingga sepuluh tahun yang lalu di kampung Cabbenge Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis masih terdengar teriakan anak-anak dengan kalimat Assalamu'alaikum massiara-massiara meloka Massiara sambil mengetuk pintu dengan penuh keyakinan bahwa tuan rumah akan membuka pintu dan memberikan senyuman manis kepada anak-anak tersebut entah dipersilahkan masuk makan atau hanya memberikan sekedar oleh-oleh berupa sejumlah uang untuk jajan.

“Saat Ramadhan tahun ini MassyaAllah tradisi massiara masih ada di masyarakat Bugis tetapi sudah berubah bentuk, suara anak-anak tersebut sudah tidak terdengar, sebenarnya anak-anaknya banyak tetapi teriakan Assalamu’alaikum massiara-massiara meloka massiara sudah tidak ada, mungkin anak-anak tersebut meringkuk (duduk atau tidur dengan posisi tubuh membungkuk) di sudut-sudut ruangan menatap layar gadget/HP (Handphone) dengan sangat senang”, ucap Gusnawaty.

Menurut Gusnawaty sesungguhnya kita sudah kehilangan hal yang sangat essensial (penting) dengan meredupnya tradisi massiara yang di sambut dengan gembira di kalangan anak-anak tersebut, kita tahu bahwa Indonesia memiliki keberagaman dalam budaya terutama di masyarakat Bugis dan massiara bukan hanya sekedar berkunjung tetapi mengandung nilai perekat yang membuat kita saling terhubung satu dengan yang lainnya.

“Massiara merupakan media di mana jika seseorang selama beberapa lama atau beberapa bulan tidak saling tegur sapa maka dengan adanya massiara semua dapat terhapuskan dengan lapang dada/ikhlas saling memaafkan satu dengan yang lainnya menjadi perekat sosial yang nyata dan tidak dapat di gantikan dengan apapun”, terang Gusnawaty

Secara keseluruhan, Massiara adalah manifestasi nyata dari tingginya kecerdasan emosional dan sosial masyarakat Bugis. Di era digital di mana komunikasi sering kali hanya terbatas pada layar gawai, Massiara mengingatkan kita akan pentingnya kehadiran fisik dan sentuhan langsung dalam membangun relasi manusiawi. Tradisi ini tetap relevan dan tak tergantikan sebagai benteng pertahanan moral serta perekat abadi yang menjaga keharmonisan masyarakat Bugis dan perantauan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....