Kemarau dan Vegetasi Kering Picu Lonjakan Karhutla di Maros
- 05 Okt 2026 20:25 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mengalami peningkatan sepanjang September 2026. Kondisi musim kemarau yang diperparah cuaca panas dan vegetasi yang mengering membuat sejumlah wilayah semakin rentan terhadap kebakaran.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Maros pun memperkuat kesiapsiagaan dengan menyiagakan personel dan armada untuk merespons setiap laporan kebakaran yang masuk. Kasi Sarpras dan Informasi Damkarmat Maros, M. Ilham Halimsyah mengatakan, hingga 25 September 2026, pihaknya telah menangani sebanyak 278 kejadian kebakaran lahan dan hutan.
Dari jumlah tersebut, 156 kejadian terjadi sepanjang September, meningkat dibandingkan Agustus yang tercatat sebanyak 104 kejadian. “Untuk menangani ini kita siagakan kurang lebih 200 personel dengan 12 armada,” ujarnya Senin 5 Oktober 2026.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak hanya dipusatkan di Markas Komando Damkarmat di Kota Maros. Sejumlah unit sektor juga disiapkan untuk mempercepat respons ketika kebakaran terjadi di wilayah yang jauh dari pusat kota.
Unit sektor tersebut berada di antaranya di Moncongloe, Tanralili, Bontoa, Bantimurung dan Marusu. Dukungan antarsektor juga dilakukan ketika kebakaran membutuhkan tambahan personel maupun armada.
Tantangan Kebakaran di Lereng Pegunungan
Penanganan karhutla di kawasan lereng dan pegunungan menjadi salah satu tantangan bagi petugas Damkarmat. Kondisi medan membuat armada pemadam terkadang tidak dapat mendekati titik api.
Dalam kondisi tersebut, personel harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju lokasi kebakaran. Tantangan semakin kompleks ketika kebakaran berada di kawasan hutan lindung atau wilayah yang masuk kawasan konservasi.
Damkarmat Maros dalam kondisi tersebut berkoordinasi dengan pihak taman nasional. “Kalau lereng atau gunung itu berada di kawasan hutan, terutama hutan lindung, tentu saja ini tidak menjadi kewenangan kita sepenuhnya. Kita berharap ada dukungan dari Manggala Agni atau pihak taman nasional,” jelas Ilham.
Damkarmat dapat memberikan dukungan berupa personel maupun suplai air apabila dibutuhkan dalam penanganan kebakaran di kawasan tersebut.
Cuaca Panas dan Vegetasi Kering Tingkatkan Risiko
Ilham menjelaskan, kondisi kemarau saat ini membuat vegetasi di sejumlah lahan mengering. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menyala dan cepat menjalar ketika terjadi kebakaran.
Selain faktor cuaca, Damkarmat juga menduga sebagian kejadian kebakaran dapat dipicu aktivitas manusia. Salah satunya adalah pembakaran sampah yang tidak benar-benar dipastikan padam.
Bara atau titik api yang tertinggal dapat kembali menyala ketika tertiup angin dan kemudian membakar vegetasi kering di sekitarnya. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran secara sembarangan, terutama di tengah kondisi lahan yang kering.
Damkarmat Imbau Warga Tidak Bakar Lahan
Damkarmat Maros mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Warga diminta menghindari pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara membakar.
Jika pembakaran terpaksa dilakukan untuk kebutuhan tertentu, api harus dipastikan benar-benar padam dan tidak ditinggalkan begitu saja. “Harapan kita masyarakat tidak melakukan aktivitas membakar sampah atau membakar lahan yang dapat memicu munculnya api yang membesar dan kebakaran yang luas,” pungkas Ilham.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....