Anak Krakatau, Pulau yang Lahir dari Letusan

  • 08 Sep 2026 14:04 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Erupsi gunung anak krakatau beberapa waktu lalu kembali mengingatkan pada sejarah kelam meletusnya gunung krakatau pada 1883. Anak Krakatau merupakan gunung merapi aktif sekaligus pulau vulkanik yang berada di kawasan Selat Sunda, Provinsi Lampung. Pulau ini memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan kehancuran Krakatau akibat letusan besar pada 1883.

Dilansir dari Wikipedia Indonesia, Anak Krakatau pertama kali muncul pada 29 Desember 1927 dari kaldera yang terbentuk setelah letusan eksplosif Krakatau pada 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar Pulau Krakatau dan meninggalkan kawasan laut dangkal di sekitar sisa Pulau Rakata.

Setelah letusan 1883, sekitar dua pertiga bagian Pulau Rakata di sisi barat laut hilang. Bagian tersebut sebelumnya berkaitan dengan keberadaan Gunung Perbuwatan dan Gunung Danan yang kemudian hancur akibat letusan dahsyat.

Kemunculan Anak Krakatau diawali aktivitas vulkanik pada awal 1927. Saat itu mulai terlihat kepulan asap dan letusan-letusan kecil di lokasi yang berada di antara bekas puncak Gunung Perbuwatan dan Gunung Danan.

Daratan yang muncul pada tahap awal ternyata belum mampu bertahan. Gelombang laut kembali menghancurkan daratan tersebut, kemudian aktivitas vulkanik muncul lagi dan membentuk daratan baru. Proses muncul dan runtuhnya daratan ini berlangsung berulang selama sekitar tiga tahun.

Titik balik terjadi pada 11 Agustus 1930. Sejak saat itu, pulau yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau tidak lagi runtuh dan terus mengalami aktivitas letusan yang secara perlahan membangun tubuh gunung api tersebut. Pertumbuhan Anak Krakatau berlangsung cukup cepat. Pada 1935, pulau ini telah berbentuk hampir bundar dengan diameter sekitar 1.200 meter dan ketinggian 63 meter, kemudian mencapai 125 meter pada 1940 dan 155 meter pada 1955.

Aktivitas vulkanik membuat titik tertinggi Anak Krakatau terus bertambah. Hingga September 2018, sebelum terjadi longsoran besar, ketinggiannya tercatat mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut dengan laju pertumbuhan sekitar 7–9 meter per tahun.

Dengan proses tersebut, Anak Krakatau menjadi contoh menarik bagaimana sebuah pulau vulkanik dapat terbentuk dari aktivitas gunung api. Pulau ini sekaligus menjadi kawasan penting bagi penelitian geologi dan vulkanologi karena usianya relatif muda serta proses pembentukannya dapat diamati dalam sejarah modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....