Lontara’ Muda: Menyalakan Literasi Desa hingga Mancanegara

  • 04 Apr 2026 19:45 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR - Rendahnya minat baca di pelosok daerah tidak menyurutkan semangat anak muda di Desa Rolembah, Malakaji, untuk membuat perubahan besar. Melalui Komunitas Lontara’ Muda yang didirikan pada September 2025, gerakan literasi mulai masif dijalankan untuk mendobrak stigma bahwa membaca dan menulis adalah kegiatan yang membosankan, para pendiri komunitas ini membagikan kisah inspiratif mereka dalam membangun ekosistem menulis dari tingkat desa.

Founder Lontara’ Muda, Allya, mengungkapkan bahwa keresahannya bermula dari kondisi literasi di lingkungan sekitar yang sangat minim. Ia melihat banyak orang, termasuk tenaga pendidik, yang masih kurang memperhatikan kaidah penulisan dan kebiasaan membaca.

"Saya ingin mengubah sudut pandang mereka tentang literasi. Kita tidak akan berkembang kalau hanya melakukan hal yang kita bisa. Menulis itu bukan soal bakat semata, tapi soal kemauan untuk mulai dan bertahan dalam prosesnya," ujar Allya saat dikonfirmasi lewat telephone oleh RRI jumat 3 April 2026.

Dalam perjalanannya yang baru seumur jagung, komunitas ini telah berhasil menelurkan dua karya buku antologi berjudul Bulan Menangis di Atas Lautan dan Matahari Menangis diatas lautan.⁠ Buku-buku tersebut merupakan hasil refleksi diri dari para peserta kelas bimbingan menulis batch pertama.

Allya menjelaskan bahwa proses belajar dilakukan selama tiga bulan secara daring, di mana dua bulan pertama fokus pada materi dan praktik, sementara bulan terakhir dikhususkan untuk proyek penyusunan buku. Co-Founder Lontara’ Muda, Rahma, menambahkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap gerakan ini melampaui ekspektasi awal mereka.

Pada pendaftaran batch kedua yang akan dimulai Senin (6/4), peserta yang bergabung tidak hanya berasal dari Sulawesi Selatan, melainkan merambah ke luar pulau hingga ke luar negeri. "Alhamdulillah, sudah ada pendaftar bahkan dari Kairo. Ini membuktikan bahwa wadah literasi digital sangat dibutuhkan untuk merangkul anak-anak muda yang ingin berkembang namun terkendala jarak," ungkap Rahma.

Komunitas ini berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah maupun masyarakat luas agar jangkauan literasi mereka bisa semakin luas hingga ke seluruh nusantara. Mereka percaya bahwa menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan pemikiran agar tidak hilang ditelan zaman.

"Menulis dalam literasi itu seperti menulis di atas batu. Jika kita tidak mengabadikan dalam tulisan, identitas dan pemikiran kita akan hilang dimakan waktu," pungkas Rahma di akhir sesi siaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....