Aktivis: 11 Penanganan Abrasi Selayar Berakhir Diatas Kertas
- 25 Mei 2026 20:06 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Selayar - Kondisi pesisir sepanjang jalur Pamatata menuju Kota Benteng di Kabupaten Kepulauan Selayar kini dilaporkan semakin kritis akibat hantaman abrasi yang tak kunjung tertangani. Garis pantai yang terus mundur hingga nyaris memutus akses jalan utama memicu desakan keras dari masyarakat terhadap langkah nyata pemerintah daerah.
Aktivis Difabel Sulawesi Selatan, Abdul Rahman Gus Dur mengungkapkan suara keprihatinan masyarakat pesisir sebenarnya telah disuarakan sejak tahun 2015 silam. Namun, ia menilai komitmen Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan selama 11 tahun terakhir masih sangat minim implementasi di lapangan.
“Hingga awal tahun 2026 ini, tidak ada satu meter pun tanggul penahan yang selesai dibangun dan semua rencana masih berupa peta di meja kerja dinas. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar hanya fokus pada penyusunan dokumen perencanaan dan pengajuan proposal bantuan anggaran ke pemerintah pusat tanpa hasil yang jelas. Minimnya pengawasan terhadap aktivitas penambangan pasir laut di malam hari juga dituding menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan benteng alami pantai.” tegas Rahman kepada RRI Makassar, Senin, 25 Mei 2026, sore.
Peran Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga menurut Gusdur hanya menjadi perantara administratif tanpa mengalokasikan anggaran khusus dari APBD Provinsi. Padahal, Selayar merupakan wilayah pulau terluar yang memiliki nilai strategis sebagai benteng kedaulatan negara di bagian selatan Indonesia.
“Kami menuntut pemerintah berhenti sekadar menyusun dokumen atau mengirim surat permohonan. Masyarakat butuh aksi nyata bukan sekadar janji politik,” kata Rahman.
Kelompok rentan merasa hak hidup dan keselamatan mereka terabaikan karena tidak pernah ada klausul perlindungan khusus dalam rencana penanganan bencana pesisir tersebut. Pemerintah diminta segera menggerakkan penanaman mangrove secara masif serta membangun tanggul darurat di titik-titik paling kritis sebelum jalur transportasi lumpuh total.
“Saat akses jalan putus akibat abrasi, kelompok difabel, lansia, dan anak-anak adalah pihak yang paling sulit untuk menyelamatkan diri atau mendapatkan bantuan.” Imbuhnya
Sejarah akan mencatat sejauh mana integritas para pemimpin daerah dalam menjaga wilayah kedaulatan serta nyawa warga di pesisir Selayar. Kesabaran warga yang telah menanti sejak satu dekade lalu kini berada di titik nadir, menuntut kehadiran negara yang sesungguhnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....