Kisah Diterimanya Taubat Nabi Adam pada 10 Muharram
- 20 Jun 2026 19:12 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Bulan Muharram selalu menyimpan kisah spiritual yang mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Salah satu peristiwa agung yang diyakini terjadi pada hari Asyura, atau tanggal 10 Muharram, adalah diterimanya tobat manusia pertama, Nabi Adam alaihi sallam, setelah ratusan tahun memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kisah pertaubatan ini bermula ketika Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke bumi akibat melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati buah khuldi di surga. Sadar akan kekhilafan besar yang telah dilakukan karena teperdaya oleh bujuk rayu iblis, Nabi Adam dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam dan terus-menerus memohon ampunan tanpa henti selama ratusan tahun di bumi.
Dikutip dari NU Online, Menurut catatan sejarah Islam dan pendapat sejumlah ulama, momen mengharukan di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala akhirnya melimpahkan rahmat dan menerima tobat Nabi Adam terjadi tepat pada tanggal 10 Muharram. Hari itu menjadi simbol pembuka gerbang ampunan ilahi sekaligus bukti nyata bahwa Allah Maha Penerima Tobat bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Peristiwa diterimanya tobat nabi pertama ini diabadikan secara indah dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surat Al-Baqarah ayat 37. Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Nabi Adam menerima beberapa kalimat (doa ilham) dari Tuhannya untuk memohon ampun. Allah SWT berfirman Fatalaqqooa Aadamu mir Rabbihii Kalimaatin fataaba 'alayh; innahuu Huwat Tawwaabur Rahiim. Artinya: "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 37).
Adapun kalimat atau untaian doa yang diajarkan Allah dan terus-menerus dipanjatkan oleh Nabi Adam bersama Siti Hawa termaktub dalam Surat Al-A'raf ayat 23. Doa ini menjadi pegangan umat Islam hingga kini ketika merasa telah berbuat dosa. Allah SWT Berfirman dalam Alqur'an Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa il lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin. Artinya: "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf: 23).
Makna mendalam dari doa tersebut mencerminkan kerendahan hati yang luar biasa, di mana seorang hamba mengakui kesalahannya tanpa mencari pembenaran. Berbeda dengan iblis yang sombong dan menyalahkan keadaan, Nabi Adam memilih untuk mencela dirinya sendiri dan bersimpuh mengharapkan belas kasih serta kasih sayang penciptanya.
Momentum sejarah 10 Muharram ini membawa pesan moral yang kuat bagi umat Islam modern untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sebesar apa pun dosa yang telah diperbuat oleh manusia, pintu maaf-Nya selalu terbuka lebar selama hamba tersebut mau kembali berpasrah dan memperbaiki diri.
Melalui peringatan hari Asyura di bulan Muharram ini, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak zikir, berpuasa, dan memanjatkan doa pertaubatan meneladani Nabi Adam AS. Kisah ini menjadi pengingat abadi bahwa pengakuan dosa dan keikhlasan hati adalah kunci utama untuk meraih kembali rida dan keselamatan dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....