Bukan Sekadar Membaca, Iqra Adalah Ketajaman Spiritual Manusia
- 26 Mar 2026 14:44 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Konsep "Iqra" sering kali hanya dipahami secara tekstual sebagai perintah membaca kitab suci. namun, menekankan bahwa esensi Iqra jauh lebih luas, yakni membumikan pesan langit ke dalam realitas kehidupan sehari-hari, terutama di bulan suci Ramadan.
“Bahasa membumikan ini ya karena memang terkadang kita memahami Al-Qur'an ini sangat eksklusif begitu. Hanya memahami bahwa kita kan hanya hubungan Tuhan dengan kita saja, mengaji saja, padahal mengaji yang iqra dimaksud dalam wahyu ini itu justru bukan iqra itu,” jelas Amina (Ikatan Dai Muda Indonesia) kepada RRI, Kamis m, 19 Maret 2026.
Amina menyoroti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang ummi atau tidak bisa membaca huruf, sehingga perintah Iqra bukan merujuk pada teks fisik. Lebih lanjut, hal ini menunjukkan bahwa wahyu pertama tersebut merupakan perintah bagi umat manusia untuk memiliki ketajaman intelektual dan spiritual tanpa harus selalu bergantung pada teks tertulis semata.
Dijelaskan, dimensi pertama dari membumikan Iqra adalah membaca diri, bahwa manusia sering kali lebih mudah menilai orang lain daripada mengenali kekurangan dan kelebihan yang ada di dalam dirinya sendiri. “Membaca diri menjadi kunci agar ibadah yang dijalankan tidak sekadar menjadi rutinitas fisik tanpa makna spiritual,” tegas Pengurus MUI Sulsel ini.
Lebih lanjut Aminah menerangkan, Iqra juga mencakup kemampuan membaca fenomena sosial di sekitar kita. Pasalnya, sebagai makhluk sosial atau Annas, manusia diminta untuk peka terhadap kondisi masyarakat, sehingga ibadah tidak hanya bersifat vertikal kepada Tuhan, tetapi juga horizontal melalui aksi sosial seperti zakat, infak, dan sedekah.
“Cukup jadi manusia. Iya. Kalau lu masih manusia, kalau kamu masih manusia kamu akan punya kepekaan sosial. Kalau kamu bukan manusia, kamu enggak akan punya kepekaan sosial itu,” terang Aminah.
Ustadzah Aminah tekankan pentingnya kepekaan kemanusiaan. "Untuk menangani masalah Gaza itu tidak perlu jadi muslim, cukup jadi manusia saja. Kalau kamu masih manusia, kamu akan punya kepekaan sosial," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bulan Ramadan adalah masa pelatihan atau riyadhah untuk menjinakkan hawa nafsu. Ia menganalogikan nafsu seperti ular kobra yang jika terus diikuti akan semakin buas, sehingga puasa hadir sebagai instrumen untuk mendidik dan mengendalikan keinginan yang berlebihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....