KHF II Buka Ruang Kolaborasi, Warga Mangeloreng Rawat Warisan Karst
- 20 Sep 2026 17:35 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros - Pelestarian kawasan Karst Maros-Pangkep tidak hanya berbicara tentang gua, batuan, situs prasejarah, maupun keanekaragaman hayati. Di balik bentang alam tersebut, terdapat masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup, beraktivitas, sekaligus mewariskan pengetahuan dan kebudayaan di dalamnya.
Semangat itulah yang diangkat dalam Karst Heritage Festival II (KHF II) yang digelar di Dusun Lopi-Lopi, Desa Mangeloreng, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, 18 hingga 20 September 2026. Mengusung tema “Hand and Foot Print”, festival ini menjadi ruang pertemuan masyarakat, peneliti, pelaku budaya, pemerintah, komunitas, mahasiswa, hingga pegiat lingkungan untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjaga kawasan karst.
Tema tersebut merefleksikan jejak panjang hubungan manusia dengan bentang karst. Jejak tangan dan kaki manusia prasejarah yang masih dapat ditemukan pada dinding gua menjadi pengingat tentang kehidupan masa lalu, sementara masyarakat hari ini meninggalkan “jejak” melalui berbagai upaya menjaga alam, budaya, dan pengetahuan lokal.
KHF II tidak sekadar dikemas sebagai festival kebudayaan. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus sarana memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kawasan karst yang memiliki nilai geologi, arkeologi, keanekaragaman hayati, serta kebudayaan yang saling berkaitan. Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan, Iswadi Makaraka, mengatakan pelaksanaan KHF II merupakan bagian dari proses panjang yang mendapat dukungan melalui Dana Indonesiana-LPDP Kementerian Kebudayaan.
Menurutnya, dukungan terhadap kegiatan kebudayaan menjadi penting agar pengetahuan mengenai warisan budaya tidak hanya berkembang di lingkungan akademik maupun institusi, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat yang menjadi bagian langsung dari kawasan tersebut. “Yang penting dari proses ini adalah bagaimana pelestarian kebudayaan dapat tumbuh bersama masyarakat, karena masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan dan warisan budaya itu sendiri,” ujar Iswadi, Minggu 20 September 2026.
Festival Jadi Ruang Belajar Bersama
General Manager UNESCO Global Geopark Maros Pangkep, Dedi Irfan, mengapresiasi pelaksanaan KHF II yang dinilainya dapat menjadi pendekatan berbasis masyarakat dalam memperkenalkan nilai penting kawasan geopark. Menurut Dedi, keterlibatan warga melalui festival, diskusi, kegiatan lingkungan, seni, permainan tradisional hingga aktivitas keseharian membuat informasi mengenai geopark lebih dekat dengan masyarakat. “Kami mengapresiasi kegiatan ini sebagai sebuah model pendekatan berbasis masyarakat yang efektif untuk penyebarluasan informasi,” kata Dedi.
Ia menambahkan, kegiatan seperti KHF II juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap proses revalidasi UNESCO Global Geopark Maros Pangkep. Keterlibatan masyarakat Desa Mangeloreng menjadi salah satu kekuatan utama festival. Warga tidak hanya hadir sebagai peserta atau penonton, tetapi terlibat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan berbagai agenda.
Masyarakat menyediakan ruang kegiatan, menyiapkan kuliner tradisional, menghadirkan pertunjukan budaya, mengikuti aksi lingkungan, serta terlibat dalam berbagai aktivitas edukasi yang berlangsung selama festival. Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros, Yusriadi Arif, yang hadir sekaligus membuka kegiatan, mengapresiasi kerja bersama antara panitia, masyarakat dan berbagai pihak yang terlibat.“KHF II bisa berjalan karena ada semangat untuk bahu-membahu dan keterlibatan banyak pihak,” ungkap Yusriadi.
Sementara itu, Kepala Desa Mangeloreng Muhammad Darwis berharap semangat yang dibangun melalui festival tidak berhenti setelah tiga hari pelaksanaan.
Ia berharap masyarakat bersama pemerintah desa dapat melanjutkan berbagai inisiatif yang telah tumbuh melalui KHF II dan menjadikannya sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam menjaga potensi alam dan budaya desa.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun di desa, sehingga manfaatnya semakin luas dan masyarakat semakin terlibat dalam menjaga potensi alam, budaya, dan warisan yang ada di Mangeloreng,” ujar Muhammad Darwis.
Dari Sungai, Situs Prasejarah hingga Panggung Kampung
Rangkaian KHF II diisi dengan berbagai kegiatan yang mempertemukan isu lingkungan, kebudayaan, penelitian dan kehidupan masyarakat. Pada hari pertama, festival diawali dengan aksi donor darah bersama PMI Kabupaten Maros, pemeriksaan kesehatan gratis, perpustakaan keliling, serta aksi bersih sungai yang melibatkan masyarakat dan peserta festival.
Mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin juga menghadirkan kuliah lapangan. Sejumlah bincang komunitas membahas pengelolaan sampah, gerakan menuju nir-sampah, ekosistem karst, peran pemuda dalam transmisi budaya, hingga karst sebagai ruang kehidupan bersama.
Malam pembukaan kemudian menjadi panggung pertemuan seni dan tradisi melalui Angngaru, Tari Paduppa, serta pertunjukan komunitas.
Memasuki hari kedua, peserta diajak menjelajahi sejumlah situs prasejarah di sekitar Desa Mangeloreng. Diskusi publik digelar di ruang yang berdekatan dengan situs untuk membahas karst sebagai living heritage, publikasi hasil penelitian, advokasi lingkungan, seni cadas purba, artefak arkeologi, hingga tantangan pelestarian kawasan. Peserta juga mengikuti workshop eksperimental pembuatan alat batu dan permainan tradisional, sebelum dilanjutkan dengan malam kebudayaan yang menghadirkan tarian Ganrang Bulo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....