Pasokan Listrik dan Debit Air Jadi Sorotan Ombudsman di PLTA Bakaru
- 18 Sep 2026 20:53 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Pinrang - Keandalan pasokan listrik menjadi perhatian Ombudsman RI Perwakilan Sulawesi Selatan saat meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru, Kabupaten Pinrang, Selasa 16 September 2026. Kunjungan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sulsel, Ismu Iskandar, tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Ombudsman di Kabupaten Pinrang sekaligus menjalankan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik.
Dalam kunjungan itu, Ombudsman menyoroti sejumlah aspek penting, mulai dari kontribusi PLTA Bakaru terhadap ketersediaan listrik di Sulawesi Selatan, proses pemeliharaan pembangkit hingga kesiapan menghadapi potensi penurunan debit air. “Ada beberapa hal yang ingin kami lihat, terutama bagaimana dukungan PLTA Bakaru terhadap ketersediaan listrik di Sulawesi Selatan. Selain itu, kami ingin mengetahui bagaimana proses maintenance dilakukan agar dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak berdampak signifikan terhadap pelayanan listrik kepada masyarakat, serta bagaimana langkah antisipasi ketika terjadi penurunan debit air,” ujar Ismu, Jumat 18 September 2026.
Menurut Ismu, keandalan pembangkit merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan listrik kepada masyarakat. Karena itu, pemeliharaan pembangkit dinilai perlu dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap kontinuitas pasokan listrik. Langkah tersebut diperlukan agar potensi gangguan pelayanan dapat diminimalkan.
Antisipasi Debit Air DAS Mamasa
Selain pemeliharaan, Ombudsman Sulsel turut menggali kesiapan PLTA Bakaru menghadapi perubahan kondisi hidrologi, khususnya kemungkinan penurunan debit air. Ketersediaan air menjadi faktor penting dalam operasional PLTA. Karena itu, pihak PLTA Bakaru menjelaskan bahwa pemantauan kondisi cuaca, curah hujan, serta debit air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamasa dilakukan secara berkelanjutan.
Berdasarkan proyeksi cuaca yang dipaparkan dalam kunjungan tersebut, wilayah DAS Mamasa diperkirakan mengalami periode dengan curah hujan relatif rendah pada Agustus hingga September. Kondisi tersebut kemudian diproyeksikan berangsur berubah memasuki Oktober dan November, ketika curah hujan diperkirakan mulai meningkat.
Perubahan kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan operasional pembangkit.
Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
Salah satu langkah antisipasi yang disiapkan adalah rencana penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah DAS Mamasa. Namun, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kondisi klimatologis agar upaya tersebut dapat dilakukan pada periode yang dinilai paling memungkinkan untuk menghasilkan dampak yang efektif.
Berdasarkan kajian yang dipaparkan, masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan, sekitar Oktober hingga November, dinilai lebih ideal untuk pelaksanaan OMC dibandingkan saat puncak musim kemarau. Persiapan OMC juga membutuhkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Selain itu, kesiapan teknis turut menjadi perhatian, termasuk pengujian penggunaan UAV atau drone serta bahan semai yang akan digunakan.
Ombudsman Dorong Mitigasi Terencana
Dalam kunjungan tersebut, Ismu Iskandar diterima langsung oleh Emilius Wahyu Nugroho, Manajer PLN NP UP Bakaru, Dadan, Manajer PLN UP3 Pinrang, serta Bahtiar, Manajer PLN NP ULPLTA Bakaru. Ombudsman Sulsel mendorong agar pengelolaan operasional dan pemeliharaan pembangkit terus dilakukan secara terencana, termasuk menyiapkan mitigasi terhadap berbagai potensi gangguan.
Langkah tersebut dinilai penting bukan hanya untuk menjaga keandalan pembangkit, tetapi juga memastikan pelayanan listrik kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik. Kunjungan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Ombudsman melihat secara langsung kesiapan penyelenggara layanan dalam menghadapi berbagai kondisi yang berpotensi memengaruhi kontinuitas pelayanan publik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....