Ulama dan Peran Strategisnya Merawat Toleransi di tengah Keberagaman
- 08 Agt 2026 12:01 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – Ulama memiliki posisi strategis dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, terutama di tengah keberagaman agama, budaya, suku, dan latar belakang sosial. Peran tersebut menjadi sorotan dalam dialog program radio Titian Ilahi yang disiarkan pada Jumat, 7 Agustus 2026, dengan menghadirkan Dr. KH. Kaswad Sartono, M.Ag, Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Makassar, sebagai narasumber.
Dialog yang dipandu Risna Supratio itu membahas pentingnya kontribusi ulama dalam menanamkan nilai toleransi di tengah masyarakat. Menurut Kaswad Sartono, toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran atau keyakinan, melainkan bagaimana setiap orang mampu menghargai perbedaan yang ada.
Dalam kehidupan sosial, perbedaan merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari sehingga diperlukan sikap saling menghormati agar keberagaman tidak berubah menjadi sumber konflik. Ia menjelaskan, ulama memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pemahaman keagamaan yang menyejukkan dan mendorong umat untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.
Ceramah dan dakwah tidak hanya diarahkan pada peningkatan kesalehan individual, tetapi juga harus mampu membangun kesalehan sosial. “Ulama harus memberikan pemahaman agama yang membawa kesejukan, bukan justru memperlebar perbedaan. Toleransi harus dibangun melalui pemahaman bahwa kita hidup bersama dalam keberagaman,” jelas Kaswad.
Lebih lanjut, keberadaan ulama di tengah masyarakat dinilai penting sebagai rujukan dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang berpotensi memunculkan gesekan. Ulama diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi ketika terjadi perbedaan pandangan, sekaligus mengedepankan dialog dan pendekatan persuasif dalam menyelesaikan persoalan.
Kaswad juga menekankan bahwa membangun toleransi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Tidak cukup hanya mengandalkan tokoh agama, tetapi juga diperlukan peran keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, serta generasi muda.
Setiap pihak memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kebiasaan menghargai perbedaan sejak dini. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga toleransi.
Informasi yang tidak benar, provokasi, maupun narasi yang mengandung kebencian dapat dengan mudah menyebar melalui media sosial. Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan isu agama dan kehidupan sosial.
Dalam dialog tersebut, Kaswad mengajak masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam membangun kehidupan yang damai. Perbedaan hendaknya tidak dijadikan alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk memperkuat persaudaraan dan kerja sama dalam berbagai bidang.
“Kita boleh berbeda dalam keyakinan dan pandangan, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat kita harus tetap membangun hubungan yang baik, saling menghormati, dan menjaga kedamaian,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....