Darurat Sampah, Munafri Ungkap Alasan Warga Makassar Wajib Pilah Sampah dari Rumah
- 29 Jul 2026 15:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengungkapkan alasan di balik kebijakan pemerintah yang mewajibkan masyarakat memilah sampah dari rumah. Menurutnya, langkah tersebut merupakan upaya mendesak untuk mengatasi persoalan sampah yang telah menempatkan Kota Makassar dalam kondisi darurat.
Munafri mengatakan Makassar menghasilkan sekitar 1.100 ton sampah setiap hari. Selama bertahun-tahun, seluruh sampah tersebut langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa melalui proses pemilahan sehingga mempercepat penumpukan dan memperburuk kondisi lingkungan.
"Kami menjadi salah satu daerah yang sangat darurat sampah. Sampah kami 1.100 ton setiap hari yang semuanya langsung ke TPA tanpa ada pemilahan di dalamnya. Akhirnya TPA menjadi bobrok, menjadi TPA terbuka, punya rembesan air yang mengganggu kesehatan masyarakat dengan bau yang tersebar ke mana-mana. Karena itu kami mendapat sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup. Satu tingkat lagi itu sudah menjadi sanksi pidana," kata Munafri, Rabu, 29 Juli 2026.
Ia menjelaskan kondisi tersebut menjadi dasar Pemerintah Kota Makassar melakukan pembenahan sistem pengelolaan sampah. Salah satunya dengan mengubah metode pengelolaan TPA dari sistem open dumping menjadi sanitary landfill agar dampak pencemaran terhadap lingkungan dapat ditekan.
Munafri menyebut nantinya hanya sampah residu yang akan dibuang ke TPA, sedangkan sampah organik dan nonorganik akan dikelola melalui mekanisme yang berbeda. Munafri menilai keberhasilan kebijakan tersebut tidak akan tercapai tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen, termasuk tokoh agama dan gereja, untuk ikut mengedukasi warga agar membiasakan memilah sampah dari rumah.
"Kami berharap kegiatan ini bukan hanya sampai di pemerintah dan masyarakat, tetapi juga gereja-gereja di Makassar bisa mendukung. Tolong para pendeta sampaikan kepada jemaatnya bahwa di rumah cukup menyiapkan dua ember, satu untuk sampah organik dan satu untuk sampah nonorganik. Sampah nonorganik punya nilai ekonomis melalui bank sampah, sedangkan sampah organik bisa dijadikan kompos," ujarnya.
Menurut Munafri, perubahan kebiasaan sederhana dalam memilah sampah akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA. Selain memperpanjang umur tempat pembuangan akhir, langkah tersebut juga dapat menciptakan manfaat ekonomi melalui bank sampah serta mendukung pengembangan kompos untuk kebutuhan pertanian dan urban farming.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....