Kelurahan Rappokalling Jadi Percontohan Pengolahan Sampah Terintegrasi

  • 12 Jul 2026 19:42 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Kelurahan Rappokaling, Kota Makassar, kini menjadi percontohan dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan program ketahanan pangan. Program ini memanfaatkan sampah organik rumah tangga sebagai bahan baku utama untuk kegiatan urban farming atau pertanian perkotaan di tingkat RW.

Lurah Rappokalling, Ismail Ilho kepada RRI pada 12 Juli 2026, menjelaskan bahwa langkah strategis ini diambil sebagai bentuk dukungan nyata terhadap target pemerintah kota menuju Makassar bebas sampah pada tahun 2029. Pengelolaan sampah di wilayahnya tidak lagi sekadar membuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi melakukan pemilahan dari sumbernya.

“Pemerintah Kota Makasar membuat program di seluruh Kota Makasar, bagaimana mengolah, bagaimana memilah sampah. Salah satunya kami melakukan itu bagaimana memilah, mengolah. Mengolah sampah masyarakat yang khususnya yang sampah basahnya, sampah organiknya,” Jelas Ilho, sapaan akrabnya.

Sampah organik yang berhasil dipilah oleh warga kemudian diolah menjadi pupuk kompos, pupuk cair, hingga pakan untuk budidaya maggot. Hasil pengomposan dari budidaya maggot dimanfaatkan untuk mendukung urban farming.

Dalam implementasinya, kelurahan Rappokalling telah membangun tujuh titik urban farming yang dikelola oleh Kelompok Tani. Berbagai komoditas seperti sayur-sayuran, cabai, hingga budidaya ikan lele dan nila dikembangkan di lahan-lahan produktif warga. Keberhasilan program ini terbukti memberikan dampak ekonomi, di mana hasil panen tersebut diproyeksikan sebagai sumber pangan tambahan bagi masyarakat, khususnya untuk penanganan stunting.

Selain dukungan swadaya, pihak kelurahan juga mendapatkan bantuan sarana pendukung dari Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar. Bantuan tersebut berupa kandang ayam petelur serta bibit ikan, yang semakin memperkuat ekosistem urban farming di wilayah tersebut.

Ismail menegaskan bahwa sinergi antara pengelolaan limbah dan produktivitas lahan ini menciptakan siklus yang saling menguntungkan bagi warga. Tidak hanya sektor pangan, sistem penjemputan sampah juga berjalan efektif melalui peran aktif petugas dan pengurus RT/RW setempat. Sistem jemput bola ini memastikan sampah organik tidak menumpuk dan langsung diproses menjadi nilai ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....