Mengubah Sampah Menjadi Manfaat, Kisah Kolaborasi Warga CBP Manggala
- 11 Jun 2026 12:48 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Di sudut Kecamatan Manggala, Kota Makassar, sebuah komunitas warga membuktikan bahwa persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang melalui kolaborasi dan kesadaran bersama. Warga Cluster Berlian Permai (CBP) RT 4 RW 7, Kelurahan Tamangapa, terus membangun budaya hidup bersih dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui berbagai program lingkungan yang terintegrasi.
Gerakan tersebut berawal dari visi Ketua RT 4 RW 7 CBP, Prof. Muhammad Zubair Muis Alie, yang ingin mewujudkan kawasan permukiman yang bersih, sehat, nyaman, tertata, bahkan bebas rokok. Inspirasi itu lahir dari pengalaman akademiknya di Jepang, yang dikenal memiliki budaya hidup bersih, disiplin, dan peduli lingkungan.
Dari semangat tersebut lahirlah Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi, yang kini berkembang menjadi motor penggerak transformasi lingkungan menuju kawasan berkonsep Zero Waste. Ketua Umum BSU Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim, mengatakan gerakan tersebut bermula dari keresahan warga terhadap persoalan sampah yang semakin kompleks.
"Kami melihat persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan. Harus ada perubahan perilaku dari warga," ujarnya, Kamis 11 Juni 2026.
Menurut Andi Nirma, sekitar awal 2025 warga mulai merasakan perubahan dalam sistem pengelolaan dan pengangkutan sampah. Kondisi tersebut menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa sampah harus diselesaikan dari sumbernya, yakni rumah tangga.
"Dari situlah lahir gagasan mendirikan BSU Nurul Ilmi sebagai pusat edukasi sekaligus pengelolaan sampah berbasis masyarakat," katanya.
Ia menjelaskan, sejak awal BSU Nurul Ilmi tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah bernilai ekonomis. Visi yang dibangun lebih luas, yakni menjadikan Cluster Berlian Permai sebagai kawasan percontohan pengelolaan sampah terpadu yang mendukung terciptanya lingkungan bersih dan ramah lingkungan.
Gerakan ini juga terhubung dengan pengembangan konsep Masjid Peduli Lingkungan di Masjid Nurul Ilmi. Melalui konsep tersebut, berbagai aktivitas kemasjidan diarahkan untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, termasuk melalui penerapan gagasan zakat hijau.
Berbagai program kemudian disusun melalui roadmap bulanan dan tahunan yang berfokus pada edukasi lingkungan, perubahan perilaku, pemilahan sampah dari rumah tangga, pengolahan sampah organik, hingga pengembangan kegiatan berbasis lingkungan.
"Saat ini fokus kami memastikan seluruh warga mampu melakukan pemilahan sampah secara mandiri dan konsisten dari rumah masing-masing. Progresnya bertahap karena semua warga perlu mendapatkan pendampingan," jelas Andi Nirma yang juga menjabat Bendahara Masjid Nurul Ilmi.
Dalam perjalanannya, BSU Nurul Ilmi mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari Pemerintah Kelurahan Tamangapa, Pemerintah Kecamatan Manggala, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian dan Perikanan, komunitas lingkungan, hingga RT dan RW setempat.
Dukungan juga datang dari pihak pengembang perumahan, I Putu Dana, yang membantu penyediaan sarana dan prasarana, peminjaman lahan, serta pendanaan berbagai kegiatan warga. Selain itu, sejumlah akademisi dan pegiat lingkungan turut memberikan pendampingan, di antaranya Prof. Mashud, Andi Icha, Thalib, Nurhaji, media lingkungan KlikHijau yang dipimpin Anis, serta pegiat lingkungan Fadly Padi. Program tersebut bahkan mendapat perhatian dari Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang berkunjung langsung ke lokasi.
Menurut Andi Nirma, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci keberhasilan gerakan yang sedang dibangun. "Kami tidak bisa berjalan sendiri. Banyak pihak yang mendukung, memberikan ilmu, pendampingan, hingga motivasi," ujarnya.
Salah satu pengembangan terbaru yang dilakukan BSU Nurul Ilmi adalah pembangunan pusat pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos. Lokasinya berada berdampingan dengan kebun PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT), sehingga membentuk ekosistem yang saling mendukung antara pengelolaan sampah dan pertanian perkotaan.
Saat ini terdapat dua unit teba atau lubang pengolahan organik yang sedang dalam proses menghasilkan kompos. Ke depan, hasil kompos tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung program urban farming yang dikembangkan warga.
"Urban farming akan menjadi pembeli utama kompos yang kami produksi. Dengan begitu tercipta siklus ekonomi yang berkelanjutan di lingkungan kami," jelasnya.
BSU Nurul Ilmi juga tengah berupaya membangun pasar internal untuk berbagai hasil olahan sampah, baik organik maupun nonorganik, sehingga nilai ekonominya dapat terus berputar di dalam kawasan. "Banyak hal yang sudah kami lakukan. Kami ingin nilai ekonominya tetap berputar di lingkungan warga, kecuali untuk sampah residu yang memang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir," katanya.
Bagi Andi Nirma, tujuan utama gerakan tersebut bukan hanya menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari rumah. Karena itu, tim Agent of Change CBP terus melakukan edukasi, sosialisasi, dan pendampingan kepada warga secara berkelanjutan.
"Kami ingin membuktikan bahwa lingkungan bersih bukan karena membayar petugas kebersihan lebih banyak, tetapi karena masyarakatnya memiliki kesadaran dan budaya hidup bersih," tutupnya.
Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang semakin kompleks, warga Cluster Berlian Permai memilih untuk tidak sekadar mengeluh. Mereka bergerak bersama mencari solusi, membangun perubahan dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Dari kegelisahan lahir sebuah gerakan, dan dari gerakan itu tumbuh harapan menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....