YPMIC Dorong Inovasi Rumah Ibadah Hijau untuk Kurangi Sampah dan Emisi
- 06 Jun 2026 11:10 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Upaya mewujudkan rumah ibadah yang ramah lingkungan terus didorong oleh berbagai pihak, termasuk Yayasan Peduli Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC). Melalui konsep rumah ibadah hijau, masjid dan tempat ibadah lainnya diharapkan tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Founder YPMIC Makassar, Nur Hidayah, mengatakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan barang sekali pakai, terutama sampah plastik. Menurutnya, budaya penggunaan peralatan yang dapat dipakai berulang perlu kembali digalakkan di lingkungan rumah ibadah.
“Inovasi rumah ibadah itu salah satunya menghindari sampah plastik, pipet, dan berbagai barang sekali pakai lainnya. Sebaiknya kembali menggunakan cangkir atau wadah yang bisa dipakai berulang sehingga dapat mengurangi volume sampah yang dihasilkan setiap hari,” ujar Nur Hidayah, Jumat, 5 Juni 2026.
Selain pengurangan sampah, penghematan penggunaan air juga menjadi perhatian penting. Ia menjelaskan area tempat wudhu perlu dilengkapi dengan sistem pengaturan debit air agar pengguna tidak membuka keran secara berlebihan. Menurutnya, penggunaan air yang bijak merupakan bagian dari praktik ibadah yang selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan.
Nur Hidayah mencontohkan, di sejumlah fasilitas kesehatan telah tersedia sarana tayamum bagi pasien yang tidak memungkinkan menggunakan air. Sementara di masjid, edukasi penggunaan air secukupnya saat berwudhu dapat dilakukan melalui pemasangan perangkat hemat air dan pengaturan aliran keran agar tidak mengalir terlalu deras.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan beberapa masjid telah menerapkan inovasi pengelolaan air bekas wudhu. Air yang sebelumnya terbuang kini disaring melalui sistem filtrasi sebelum dialirkan ke kolam ikan. Setelah melalui proses penyaringan, air tersebut dapat dimanfaatkan kembali sehingga menciptakan siklus penggunaan air yang lebih efisien.
“Ada masjid yang sudah mendaur ulang air bekas wudhu. Air tersebut disaring, dialirkan ke kolam ikan, kemudian diproses kembali untuk dimanfaatkan. Ini merupakan inovasi kreatif yang dapat menghadirkan rumah ibadah hijau dan lebih peduli terhadap lingkungan,” kata Nursaidah Hidayh yang juga seorang Akademisi UIN Alauddin Makassar.
Tidak hanya itu, sejumlah masjid juga telah mengembangkan program pengelolaan sampah mandiri melalui pembentukan bank sampah. Sampah plastik yang terkumpul dipilah dan didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan di sekitar rumah ibadah.
Menurut Nur Hidayah, aspek penghijauan juga perlu menjadi perhatian serius. Ia menilai perlu dilakukan asesmen untuk mengetahui berapa banyak masjid yang telah memiliki pohon dan ruang terbuka hijau. Jika belum tersedia, pengurus masjid didorong untuk menanam pohon karena memiliki fungsi penting sebagai resapan air dan penyejuk lingkungan.
Di sisi lain, penggunaan pendingin ruangan atau AC yang semakin banyak di rumah ibadah juga perlu dievaluasi. Nur Hidayah berharap pemerintah dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Makassar tidak hanya fokus pada rekomendasi pendirian rumah ibadah, tetapi juga mendorong penerapan konsep rumah ibadah hijau melalui desain ventilasi yang baik, efisiensi energi, pengurangan emisi gas rumah kaca, pengelolaan sampah, serta konservasi air yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....