Implikatur, Seni Berinteraksi yang Melibatkan Rasa, dan Budaya
- 04 Jun 2026 10:41 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR – Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan kode atau data, melainkan sebuah seni berinteraksi yang melibatkan rasa, budaya, dan pemahaman emosional yang mendalam. Hal ini mengemuka dalam siaran Obrolan Pembinaan Bahasa Daerah bertema "Implikatur dalam Bahasa Indonesia" di Pro 4 RRI Makassar pada Rabu, 03 Juni 2026. Acara ini menghadirkan Ramlah Mappau, S.S., M.Hum., Widyabasa Ahli Muda dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, yang mengupas tuntas bagaimana masyarakat menggunakan makna tersirat dalam komunikasi sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Ramlah menjelaskan bahwa istilah implikatur pertama kali dipopulerkan oleh filsuf H.P. Grice dalam ilmu pragmatik. Implikatur terjadi ketika ada jarak atau perbedaan antara apa yang diucapkan secara literal (makna langsung) dengan apa yang sebenarnya dimaksudkan secara fungsional (makna tidak langsung). Secara sederhana, implikatur adalah maksud yang tersirat dalam sebuah tuturan yang berfungsi sebagai pemanis dalam berkomunikasi.

"Secara sederhana, implikatur adalah maksud yang tersirat atau dapat dikatakan bumbu-bumbu dalam percakapan sehari-hari. Bahasa itu seperti makanan, yang diberi bumbu akan terasa nikmat," ujar Ramlah saat menjelaskan analogi implikatur dalam siaran tersebut.
Lebih lanjut, Ramlah memaparkan bahwa alasan utama masyarakat Indonesia sering menggunakan implikatur adalah demi kesantunan berbahasa (politeness) dan budaya menjaga perasaan orang lain. Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi harmonisasi sosial, sehingga berkata jujur secara terlalu frontal sering kali dianggap kasar. Implikatur hadir sebagai strategi untuk menyelamatkan muka lawan bicara agar hubungan sosial antarpeserta tutur tetap terjaga dengan baik.
"Masyarakat ada yang cenderung tidak enak kalau bicara secara langsung atau blak-blakan. Implikatur itu penting karena memungkinkan penutur menyampaikan maksud secara lebih halus, sopan, atau efisien tanpa harus mengungkapkan secara langsung. Jadi, implikatur itu menjaga muka mitra tutur dalam budaya Indonesia yang menjunjung kesantunan berbahasa," jelas Ramlah.
Secara umum, implikatur dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu implikatur konvensional dan implikatur percakapan. Implikatur konvensional muncul dari makna kata yang relatif stabil tanpa terikat konteks situasi, seperti penggunaan kata "tetapi" atau ungkapan "buaya darat" yang maknanya bersumber dari konvensi budaya. Sebaliknya, implikatur percakapan hanya dapat dipahami jika kita mengetahui konteks situasinya secara spesifik, seperti siapa yang berbicara, di mana, dan kapan peristiwa tutur itu terjadi.
Melalui pemahaman implikatur yang baik, masyarakat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar yang cerdas secara tata bahasa, tetapi juga menjadi manusia yang lebih peka secara sosial. Sebagai contoh penutup, Ramlah memberikan stimulasi sederhana: jika ada teman yang mengatakan "dinginnya ruangan ini", implikasinya bukanlah meminta jawaban "iya", melainkan sebuah kode agar kita bersedia mematikan atau menurunkan suhu AC di ruangan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....