Permabudhi Hadirkan Program Eco Pesantren jelang Hari Raya Tri Suci Waisak

  • 18 Mei 2026 11:01 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Dalam rangka menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE melalui Bulan Eco-Dhamma Nasional, Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan dan Kota Makassar resmi mencanangkan program Eco Pesantren di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Al-Imam Ashim Makassar, Minggu 17 Mei 2026. Program ini sebuah gerakan kolaboratif lintas agama yang menggabungkan nilai spiritual, pendidikan karakter, dan kepedulian lingkungan hidup.

Mengusung tema “Sinergi Umat Beragama Menanam Harmoni untuk Bumi”, program ini menjadi simbol kuat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari praktik nilai-nilai keagamaan.

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi lintas agama yang diwujudkan melalui program Eco Pesantren. Menurutnya, gerakan ini merupakan contoh nyata penerapan konsep eco theology yang saat ini terus didorong oleh Kementerian Agama. “Pelestarian lingkungan adalah bagian dari nilai keagamaan. Semua makhluk ciptaan Tuhan harus dijaga dan dirawat bersama,” ujar Ali Yafid.

Ia menegaskan pesantren memiliki peran penting dalam membentuk budaya hidup bersih dan ramah lingkungan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. “Menjaga pohon, mengelola sampah, dan menciptakan lingkungan yang bersih merupakan bentuk kepedulian terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah,” tambahnya.

Ali Yafid juga mengapresiasi pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan eco enzyme yang dinilai tidak hanya mendukung kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi pesantren.

Sementara itu, Ketua Permabudhi Sulsel, Yonggris menjelaskan Bulan Eco-Dhamma Nasional bukan sekadar perayaan seremonial menyambut Waisak, melainkan gerakan nyata membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat. “Kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari nilai spiritual dan tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Ketua Permabudhi Sulsel, Yonggris. Foto Permabudhi.

Menurut Yonggris, konsep Eco-Dhamma menekankan harmoni antara manusia dan alam. Karena itu, Permabudhi Sulsel menggandeng pesantren sebagai mitra strategis dalam membangun pendidikan lingkungan berbasis karakter dan nilai keagamaan.

Dalam program tersebut, Ponpes Tahfizul Qur’an Al-Imam Ashim Makassar ditetapkan sebagai Eco Pesantren pertama atau sebuah kawasan pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran agama dengan praktik pelestarian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari santri binaan Permabudhi Sulsel.

“Eco Pesantren bukan hanya tentang kebersihan, tetapi tentang membentuk karakter generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sejak dini,” ujar Yonggris.

Sebagai langkah nyata, terdapat empat program utama yang mulai dijalankan di lingkungan pesantren, yaitu:

• Pengelolaan sampah terpadu melalui pemilahan sampah organik dan anorganik

• Penghijauan kawasan pesantren dengan penanaman 100 pohon buah, tanaman pelindung dan tanaman bunga

• Edukasi lingkungan hidup kepada santri melalui pembiasaan perilaku ramah lingkungan yang dibawakan oleh Ketua Permabudhi Makassar Suzanna dan Bapak Mashud Azikin dari Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar.

• Pembuatan lubang teba untuk pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Tak hanya itu, program ini juga diarahkan untuk mendukung kemandirian pesantren melalui konsep urban farming dan pengolahan limbah bernilai ekonomis.

Menurut Yonggris, lingkungan pesantren memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pendidikan sekaligus kawasan hijau produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.“Kami berharap santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki karakter ekologis dan mampu memanfaatkan lingkungan secara bijak,” katanya.

Sedangkan Sekretaris Ponpes Tahfizul Qur’an Al-Imam Ashim Makassar, Jayadi Amir, menyebut siap mendukung penuh program tersebut. Ia berharap Eco Pesantren dapat menjadi pusat pembelajaran dan kolaborasi pengelolaan sampah serta penghijauan lingkungan bagi pesantren-pesantren lain di Kota Makassar. “Kami ingin pesantren ini menjadi tempat belajar bersama tentang bagaimana menjaga lingkungan dengan aksi nyata,” pungkas Jayadi Amir.

Adapun kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Ali Yafid, Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Al-Imam Ashim Makassar, Syam Amir Yunus, Ketua Permabudhi Sulsel, Yonggris, Pembimas Buddha Sulsel, Sumarjo, Ketua Permabudhi Kota Makassar, Suzanna, Kepala Kemenag Makassar, Muhammad, Kepala Kemenag Gowa, Jamaris, Sekretaris FKUB Kota Makassar, Usman Sofian, Ketua ICATT, Dewan Lingkungan Kota Makassar, Mashud Azikin, jajaran pengurus Permabudhi hingga para santri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....