Sampah Makassar Tinggi, Edukasi Pemilahan Didorong dari Masjid
- 20 Agt 2026 17:29 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Tingginya produksi sampah di Kota Makassar menjadi perhatian dalam diskusi bulanan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Masjid Musholla Indonesia Muttahidah (DPP IMMIM) bersama Pemerintah Kota Makassar, Kamis 20 Agustus 2026. Persoalan sampah dinilai membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, termasuk pengurus masjid dan para mubaligh.
Diskusi yang mengangkat tema “Mubaligh dan Spirit Kemerdekaan untuk Makassar Bersih” tersebut digelar untuk menjadi ruang dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dalam membangun kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.
Sekretaris Lembaga Dakwah IMMIM Kota Makassar, Hasan Pinang, mengatakan persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Sebab, sampah diproduksi oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari sehingga pengelolaannya membutuhkan kesadaran dan keterlibatan bersama.
Menurutnya, masjid dan rumah ibadah memiliki posisi strategis sebagai tempat menyampaikan edukasi kepada masyarakat. Para mubaligh dinilai dapat menjadi penggerak perubahan perilaku melalui pesan-pesan keagamaan yang disampaikan kepada jamaah.
“Kalau sudah bicara tentang sampah, produksinya dari seluruh warga Makassar. Oleh karenanya semua harus merasa bertanggung jawab untuk membersihkan sampah ini. Pemilahannya, ada tempat-tempat untuk sampah organik dan anorganik, itu sudah perlu dilakukan secara baik,” ujar Hasan.
Kementerian Agama Kota Makassar sendiri memiliki program Gerakan Bersih-Bersih Masjid dan Rumah Ibadah atau Gebermas. Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong pengurus masjid dan masyarakat menjadikan kebersihan sebagai bagian dari aktivitas di lingkungan rumah ibadah.
Hasan menjelaskan, edukasi mengenai pengelolaan sampah tidak cukup hanya dilakukan di masjid. Sosialisasi perlu diperluas ke berbagai lingkungan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, termasuk sekolah, madrasah, dan pondok pesantren.
Dikatakan, kebiasaan memilah sampah dari sumber merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten. Sampah organik dan anorganik yang dipisahkan sejak awal akan lebih mudah dikelola dan diolah kembali.
Ia juga menilai, nilai-nilai keagamaan dapat menjadi kekuatan dalam membangun kesadaran masyarakat. Pesan mengenai pentingnya kebersihan dapat disampaikan secara berulang oleh para mubaligh sehingga secara perlahan menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat.
“Makanya perlu pendampingan ke masjid-masjid, rumah-rumah ibadah, termasuk kepada sekolah dan pesantren. Kalau sosialisasinya dilakukan dengan baik, sebenarnya tidak ada yang berat karena masyarakat pada dasarnya cinta kebersihan dan tidak menyukai sesuatu yang kotor,” jelas Hasan.
Dalam diskusi tersebut, Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar sekaligus Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, juga mendorong para mubaligh menjadi agent of change dalam gerakan pengelolaan sampah. Menurutnya, kebersihan akan lebih mudah diwujudkan apabila seluruh masyarakat memiliki pola pikir dan kepedulian yang sama.
Persoalan sampah di Makassar dinilai semakin membutuhkan perhatian karena tingginya produksi sampah tidak seluruhnya dapat ditangani secara mandiri oleh setiap kecamatan. Karena itu, penguatan edukasi, pemilahan sampah dari sumber, serta keterlibatan organisasi masyarakat dan lembaga keagamaan menjadi bagian penting dari solusi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....