Kadar Air Tinggi Pengaruhi Kualitas Kedelai Lokal

  • 13 Apr 2026 18:25 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kadar air yang sangat tinggi dan belum mencapai tingkat kekeringan yang optimal dapat memengaruhi hasil akhir produksi tahu dan tempe di tingkat pengrajin, hal ini diharapkan menjadi perhatian bagi para petani kedelai lokal agar kualitasnya baik. Demikian disampaikan Ridwan, Owner Pabrik Tahu Putra Selayar dalam Dialog Interaktif Makassar Menyapa Pagi, Senin, 13 April 2026.

Dikatakan, Salah satu masalah teknis yang sering ditemui adalah kebiasaan petani yang memanen kedelai sebelum waktunya. Salah satu Dampak dari tingginya kadar air ini sangat terasa pada daya simpan komoditas kedelai tersebut sehingga dapat mempengaruhi hasil produksi tahu dan tempe.

“Iya, tapi petani sudah memaksakan untuk memanennya karena apa? Mungkin karena tidak adanya pelatihan-pelatihan khusus yang diberikan kepada petani sehingga begitu, Artinya dari segi kualitas kedelainya itu dia masih mengandung kadar air yang Artinya belum kering betul sehingga ketika kita tampung di lumbung kedelai, artinya di gudang kami, itu paling-paling bisa bertahan sampai sepuluh hari sudah berjamur begitu kedelainya, Jadi harapan kami bagaimana caranya supaya kualitas kedelai Indonesia bisa berbanding lurus dengan kedelai-kedelai impor pada umumnya,” kata Ridwan kepada RRI.

Dari sisi ekonomi, perbedaan kualitas ini menciptakan jurang harga yang cukup signifikan. Kedelai lokal dibanderol dengan harga yang jauh lebih murah karena mutunya dianggap belum memenuhi standar industri. Para pengrajin pun berada dalam posisi dilematis antara memilih bahan baku murah atau hasil produksi yang berkualitas.

Situasi global saat ini, termasuk adanya konflik peperangan, turut memperkeruh keadaan dengan terhambatnya pengiriman kedelai impor. Stok yang menipis membuat harga kedelai dunia melonjak tajam. Kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi kedelai lokal untuk mengambil alih pasar jika kualitasnya mumpuni.

Ridwan menekankan pentingnya intervensi pemerintah melalui pemberian bibit unggul kepada petani. Tanpa bibit yang berkualitas, target swasembada hanya akan menjadi angka tanpa adanya serapan maksimal dari industri. Bibit unggul diharapkan menjadi fondasi utama dalam meningkatkan daya saing kedelai nasional.

Owner Pabrik Tahu Putra Selayar berharap instansi terkait lebih proaktif memberikan pelatihan teknis mengenai manajemen panen kepada para petani. Petani perlu didorong untuk naik kelas agar mampu memproduksi kedelai yang sejajar dengan standar internasional. Dengan sinergi ini, swasembada 2029 bukan lagi sekadar impian, melainkan solusi nyata bagi kedaulatan pangan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....