Potensi Besar Garam, Kemenko Pangan Dorong Pengembangan Tambak Ampeka

  • 08 Agt 2026 21:31 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Potensi Kabupaten Maros dalam mengembangkan produksi garam mulai mendapat perhatian pemerintah pusat. Tim Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) meninjau langsung lokasi pengembangan garam di Desa Ampekale, Kabupaten Maros, Kamis 6 Agustus 2026.

Rombongan Kemenko Pangan dipimpin Dr. Masrizal, S.E., M.Si., bersama lima staf kementerian. Turut mendampingi Dinas Perikanan Kabupaten Maros serta jajaran pemerintah Desa Ampekale. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung inovasi teknologi produksi garam yang dikembangkan Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama masyarakat setempat.

Di lokasi tambak, rombongan berdiskusi dengan Tim Garam Unhas yang diwakili Dr. Andi Muhammad Anshar. Ia menjelaskan bahwa pengembangan garam di Ampekale merupakan bagian dari proses hilirisasi hasil riset yang telah dilakukan para peneliti Unhas.

Menurut Anshar, penelitian pengolahan air laut menjadi garam konsumsi, garam industri hingga garam farmasi telah dilakukan Prof. Indah Raya, Ph.D., bersama Tim Garam Unhas sejak 2012 di Laboratorium Departemen Kimia Fakultas MIPA Unhas. Riset tersebut kemudian mulai memasuki tahap hilirisasi melalui program yang digelar Kemendikbudristek pada 2023. Inovasi itu bahkan meraih penghargaan sebagai Inovasi Terbaik Kategori Ekonomi Biru dalam kegiatan Kedaireka.

"Tahun ini melalui skema Dorongan Teknologi pada Program Hiliriset yang bermitra dengan Pemerintah Kabupaten Maros melalui Dinas Perikanan, kami melakukan pembuatan garam krosok di Desa Ampekale menggunakan teknologi sederhana, namun efektif meningkatkan kualitas garam," jelas Anshar, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Dalam pengembangan tersebut, Unhas berperan sebagai penggagas sekaligus inventor teknologi produksi garam. Sementara masyarakat yang tergabung dalam KUGAR Pajje Ampekale menjadi pelaksana teknologi di lapangan dengan pendampingan mahasiswa KKNT yang ditempatkan di Desa Ampekale.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah Greenhouse Salt Tunnel (GST) yang dipadukan dengan geomembran. Teknologi tersebut diterapkan untuk membantu meningkatkan kualitas dan efisiensi proses produksi garam. Usai berkeliling melihat proses produksi, Dr. Masrizal memberikan apresiasi terhadap pengelolaan tambak garam di Ampekale.

Ia menilai lokasi tersebut memiliki pengelolaan yang sangat baik, terutama dari sisi penerapan teknologi.

"Ini adalah lokasi pembuatan garam menggunakan Greenhouse Salt Tunnel serta geomembran yang paling rapi dan baik," kata Masrizal.

Menurutnya, Desa Ampekale memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan produksi garam. Hal itu didukung keberadaan lahan tambak yang cukup luas dan berpotensi dialihfungsikan atau dimanfaatkan untuk produksi garam.

Potensi tersebut dinilai semakin strategis di tengah kebutuhan garam nasional yang masih mengalami kekurangan.

Masrizal menyebut kebutuhan garam nasional saat ini masih mengalami defisit sekitar 3 juta ton. Kondisi tersebut membuat pemerintah terus mendorong peningkatan produksi garam dalam negeri sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam.

"Untuk kebutuhan garam nasional masih kekurangan tiga juta ton. Karena itu, Bapak Presiden Prabowo Subianto sangat peduli terhadap swasembada garam," ujarnya.

Ia memastikan pemerintah akan terus mendorong dan memberikan dukungan terhadap berbagai upaya peningkatan produksi garam, termasuk pengembangan potensi yang ada di Kabupaten Maros.

"Karena itu pemerintah akan hadir di Maros untuk mendukung upaya-upaya dalam memproduksi garam," tegasnya.

Kunjungan tersebut menjadi sinyal positif bagi petambak garam di Ampekale. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan mampu mengubah potensi lahan tambak menjadi kekuatan ekonomi baru sekaligus ikut menjawab kebutuhan garam nasional.

Dengan dukungan teknologi dan pendampingan berkelanjutan, Ampekale berpeluang berkembang menjadi salah satu kawasan produksi garam yang tidak hanya meningkatkan kualitas hasil produksi, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Maros.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....