Mengungkap Hubungan Pola Asuh dengan Gangguan Perkembangan Anak

  • 28 Sep 2026 19:50 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Pola asuh orang tua bukan menjadi penyebab utama gangguan perkembangan pada anak. Namun, pola asuh yang kurang tepat dapat menjadi faktor penghambat perkembangan, terutama pada anak yang telah memiliki gangguan perkembangan tertentu. Hal tersebut disampaikan Arif Budhi Santoso, pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (26/9/2026).

Arif menjelaskan, gangguan perkembangan pada anak memiliki beragam bentuk dan penyebab. Sebagian gangguan perkembangan berkaitan dengan faktor genetik, seperti autisme, sementara kondisi lainnya dapat berupa Down syndrome, ADHD, speech delay, dan gangguan perkembangan lainnya.

“Menurut jurnal terakhir, gangguan perkembangan sebagian disebabkan faktor genetik. Misalkan autisme, hampir dipastikan faktor gen. Tetapi gangguan perkembangan tidak hanya autis, tetapi ada gangguan yang lain seperti Down syndrome, ADHD, speech delay dan sebagainya,” kata Arif.

Menurutnya, pola asuh lebih berperan dalam mendukung atau menghambat perkembangan anak. Anak yang mengalami keterlambatan bicara, misalnya, dapat mengalami hambatan lebih berat apabila kurang mendapatkan stimulasi dan interaksi dari lingkungan.

“Pola asuh bukan penyebab gangguan perkembangan, namun memiliki peran besar sebagai faktor penghambat. Misal ada anak secara medis dan psikologis divonis speech delay, kurang stimulasi dari orang lain, cenderung dibiarkan dengan gadget, dengan game atau komunikasi satu arah, akan memperberat kasus tersebut,” jelas Arif.

Sebaliknya, pola asuh yang disesuaikan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus dapat membantu anak beradaptasi dengan lingkungan secara lebih cepat.

“Pola asuh yang sesuai dengan anak berkebutuhan khusus akan mempercepat anak untuk dapat beradaptasi dengan lebih cepat,” tambahnya.

Arif juga menyoroti gangguan perilaku pada anak. Menurutnya, perilaku seperti sering menentang, melawan, tidak patuh, maupun kesulitan mengikuti instruksi perlu mendapatkan perhatian, khususnya ketika terjadi pada anak usia sekolah.

Ia menyebut, lingkungan keluarga dapat turut memengaruhi terbentuknya perilaku tersebut. Salah satunya ketika anak selalu dituruti keinginannya tanpa diberikan batasan atau arahan yang sesuai.

“Gangguan perilaku misalkan gangguan perilaku kan bukan sejak lahir. Jadi anak-anak yang misalkan banyak menentang, banyak melawan, tidak patuh, tidak bisa mengikuti instruksi, kan ini juga gangguan perkembangan. Apalagi saat dia masih usia sekolah, tetapi oleh lingkungan, oleh orang tuanya mungkin oleh anggota keluarga yang lain cenderung untuk dituruti semua kemauannya,” kata Arif.

Lebih lanjut, Arif menegaskan, orang tua tidak seharusnya menyalahkan pola asuh sebagai penyebab kondisi seperti autisme yang berkaitan dengan faktor genetik atau gangguan perkembangan otak dan saraf. Namun demikian, pola asuh yang positif dan responsif tetap penting untuk membantu meningkatkan kemampuan anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

“Jadi jangan menyalahkan kalau autisme dan pola asuh. Pola asuh yang sifatnya positif dan responsif akan meningkatkan kemampuan mereka lebih bagus ke depannya,” ujarnya.

Sementara untuk gangguan fungsional, seperti keterlambatan bicara atau kemampuan berjalan yang belum optimal, pemberian stimulasi dan perubahan pola asuh dapat membantu mendukung proses perkembangan anak.

“Kalau anak-anak mengalami gangguan fungsional, misalkan bicara kemudian berjalannya kurang bagus, perbaikan pola asuh akan mempercepat mereka jadi lebih baik,” kata Arif.

Ia menambahkan, orang tua dapat memberikan stimulasi sederhana melalui komunikasi dan aktivitas bersama. Anak perlu sering diajak berbicara, berinteraksi, serta melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuannya.

“Dengan sering diajak ngomong, sering diajak bicara, sering diajak aktivitas fisik, itu akan memperbaiki gangguan perkembangannya. Tapi kalau mereka dibiarkan saja, ya akan mengakibatkan mereka menjadi semakin menolak bicara, menolak belajar dan sebagainya. Jadi tetap ada korelasi,” pungkas Arif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....