Pengaruh Pola Asuh Menangani Perilaku Tantrum pada Anak
- 15 Sep 2026 09:27 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Tantrum merupakan perilaku yang cukup sering terjadi pada anak, terutama di bawah usia lima tahun. Kondisi ini umumnya muncul ketika keinginan atau kebutuhan anak tidak dapat dipenuhi oleh orang tua, pengasuh, maupun orang-orang di sekitarnya.
Saat keinginannya tidak terpenuhi, anak dapat melampiaskan emosi melalui kemarahan berlebihan, menangis, menjerit, hingga menunjukkan perilaku sulit dikendalikan. Misalnya, ketika sedang belajar anak ingin keluar, makan, atau bermain, namun keinginannya tidak dapat dipenuhi sehingga memicu tantrum.
“Tantrum itu satu kondisi anak atau remaja meluapkan emosinya, meluapkan perasaannya dengan menangis, menjerit karena keinginannya tidak terpenuhi,” kata Arif Budhi Santoso, Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Arif, dalam menangani tantrum orang tua perlu mengetahui terlebih dahulu penyebab munculnya perilaku tersebut. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pola asuh yang diterapkan di lingkungan keluarga.
“Kita harus tahu dulu apa yang menjadi penyebab, seperti kondisi orang tua otoriter atau sebaliknya sikap permisif yang selalu menuruti keinginan anak,” ujarnya.
Arif menjelaskan, pola asuh otoriter dengan kontrol yang terlalu dominan dapat membuat anak semakin tertekan. Anak yang terlalu sering dilarang, dimarahi, atau tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan keinginannya berpotensi menunjukkan tantrum yang lebih kuat.
Sebaliknya, pola asuh permisif yang terlalu banyak menuruti keinginan anak juga dapat menimbulkan persoalan. Anak berisiko menjadi kurang mandiri karena terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa memahami batasan dan aturan.
Karena itu, pola asuh demokratis atau otoritatif dinilai lebih tepat dalam mendampingi anak yang sering mengalami tantrum. Pola asuh ini memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan keinginan, namun tetap disertai batasan dan aturan yang jelas.
Konsistensi orang tua dalam menerapkan aturan menjadi hal penting. Anak perlu memahami bahwa terdapat batasan yang harus dipatuhi, sekaligus memperoleh kesempatan untuk belajar mengenali dan mengelola emosinya.
“Dengan menerapkan reward positif dan reward negatif oleh orang tua akan menjadikan anak secara mandiri memahami self regulasi,” jelas Arif.
Penerapan pola asuh yang tepat dan konsisten diharapkan dapat membantu anak mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi atau self-regulation. Dengan demikian, orang tua tidak hanya berupaya menghentikan tantrum ketika terjadi, tetapi juga membantu anak belajar memahami perasaan, keinginan, serta batasan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....