Gangguan Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah Perlu Dideteksi sejak Dini

  • 09 Sep 2026 07:05 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Gangguan tumbuh kembang pada anak usia sekolah perlu mendapatkan perhatian serius dari orang tua maupun pihak sekolah. Gangguan tersebut umumnya mulai terlihat pada usia 6 hingga 12 tahun, terutama ketika anak berinteraksi dengan teman, guru, maupun lingkungan sekolah.

Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, Arif Budhi Santoso, mengatakan gangguan tumbuh kembang anak usia sekolah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Namun, juga mencakup perilaku, kemampuan berinteraksi, serta kemampuan anak dalam mengikuti regulasi atau aturan yang berlaku di lingkungan sekolah.

“Gangguan yang muncul saat usia 6–12 tahun terlihat jelas saat anak berinteraksi dengan orang di lingkungan sekolah seperti teman dan gurunya. Tidak melulu ke aspek akademik, tetapi bagaimana anak berperilaku, bagaimana anak berinteraksi, bagaimana anak mengikuti regulasi atau aturan pada tempat tersebut, sekolah tentunya,” Hal tersebut disampaikan Arif saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di PRO 1 RRI Madiun, Sabtu lalu 5 September 2026.

Menurutnya, anak dengan gangguan belajar maupun gangguan perilaku tertentu terkadang dapat mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Kondisi seperti mudah marah, terlalu aktif atau mengganggu suasana belajar dapat membuat pihak sekolah merasa kesulitan dalam menangani anak tersebut.

“Kalau anak yang mengalami gangguan belajar seperti mudah marah, overaktif, terlalu mengganggu suasana belajar, tentu guru atau pihak sekolah akan merasa keberatan terhadap keberadaan anak tersebut,” ujarnya.

Arif menjelaskan, gangguan tumbuh kembang pada anak usia sekolah dapat berupa beberapa jenis disabilitas. Di antaranya disabilitas intelektual, disabilitas mental, disabilitas fisik, serta disabilitas sensori seperti gangguan pendengaran.

Dalam konteks gangguan belajar, salah satu kondisi yang dapat ditemukan adalah disleksia, diskalkulia, dan disgrafia. Disleksia, misalnya, dapat ditandai dengan kesulitan dalam membaca, menggabungkan huruf, memahami tulisan, maupun menangkap maksud dari sebuah bacaan atau pertanyaan.

“Gangguan berbicara, atau membaca, menggabungkan huruf, tidak mampu memahami maksud tulisan atau pertanyaan dari bacaan itu yang disebut dengan disleksia,” jelas Arif.

Ia menambahkan, terdapat berbagai faktor yang dapat berkaitan dengan gangguan tumbuh kembang anak, antara lain kondisi seperti Down syndrome, riwayat kejang, trauma atau kerusakan otak, hingga kemampuan konsentrasi anak.

Selain gangguan intelektual, anak usia sekolah juga dapat mengalami gangguan pada aspek kesehatan mental dan perilaku. Gangguan kecemasan, misalnya, dapat membuat anak menjadi lebih sensitif atau mengalami perubahan suasana hati (mood disorder), sehingga berpengaruh terhadap proses komunikasi dan interaksi dengan orang lain.

Menurut Arif, terdapat pula gangguan perilaku seperti conduct disorder. Pada kondisi tertentu, kemampuan intelektual anak sebenarnya cukup baik, tetapi gangguan kesehatan mental atau perilaku membuat anak kesulitan mengikuti proses pembelajaran maupun aturan di sekolah. Akibatnya, anak tidak jarang mendapatkan label sebagai “anak nakal”. Padahal, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kondisi yang membutuhkan pemahaman dan penanganan yang tepat.

“Anak mudah bosan, sehingga nilainya di bawah rata-rata,” jelasnya.

Arif juga menyoroti gangguan perkembangan sosial. Pada kondisi tersebut, kemampuan emosi dan intelektual anak dapat berada dalam kondisi yang cukup baik, tetapi anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain dan menerima norma sosial yang berlaku. Salah satu perilaku yang dapat terlihat adalah anak sering berjalan hilir mudik atau menunjukkan pola perilaku yang berbeda dari anak-anak lain di lingkungan sekolah.

Lebih lanjut, Arif mengatakan, orang tua dan guru perlu memperhatikan sejumlah tanda awal yang muncul pada anak. Salah satunya adalah penurunan prestasi atau nilai akademik yang sebelumnya relatif baik. Selain itu, anak dapat menunjukkan kesulitan berteman, lebih sering menyendiri, tidak memahami perintah sederhana dari guru maupun orang tua, hingga tiba-tiba tidak mau berbicara.

Kemunduran dalam kemampuan kemandirian juga perlu menjadi perhatian. Menurut Arif, perubahan tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bentuk kenakalan atau kemalasan anak. Ia menegaskan bahwa gangguan tumbuh kembang tidak muncul secara tiba-tiba. Karena itu, diperlukan pengamatan secara menyeluruh terhadap kondisi anak, baik dari sisi akademik, perilaku, komunikasi, interaksi sosial, maupun kemandiriannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....