Membaca “Kalajengking Bandaran”: ketika Sastra Menjadi Medan Perang

  • 19 Sep 2026 10:47 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Sastra tidak hanya menjadi ruang untuk menuangkan imajinasi dan gagasan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk merekam konflik, menyuarakan kelompok marginal, hingga mengkritisi ketidakadilan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam dialog bedah buku Kalajengking Bandaran dalam program Ngobras di PRO1 RRI Madiun, Senin (14/9/2026).

Buku Kalajengking Bandaran merupakan kumpulan prosa atau cerpen yang memenangkan sebuah kompetisi pada 2024. Seluruh cerita di dalamnya mengangkat berbagai peristiwa yang terjadi di Jawa Timur, sekaligus menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan dari masyarakat yang berada di posisi termarginalkan.

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKWMS Kampus Kota Madiun, Dr. Ardi Wina Saputra, M.Pd., yang menjadi narasumber dalam dialog tersebut, menjelaskan bahwa judul Kalajengking Bandaran memiliki makna yang berkaitan dengan peperangan dan potensi cerita yang dimiliki Jawa Timur.

“Kalajengking Bandaran bermakna peperangan itu merugikan, baik yang menang maupun yang kalah. Makna kedua adalah di Jawa Timur memiliki banyak sekali potensi cerita atau narasi yang layak untuk diangkat kembali melalui dunia sastra,” ujar Ardi.

Menurut Ardi, sastra memiliki hubungan erat dengan berbagai kondisi sosial, termasuk konflik dan peperangan. Dalam perjalanan sejarah, sastra dapat menjadi bagian dari sebuah konflik karena karya sastra dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan atau propaganda pada kondisi tertentu.

Ia menjelaskan, secara umum sastra terbagi dalam tiga bentuk, yakni drama, prosa, dan puisi. Dalam prosa, salah satu unsur penting yang menjadi penggerak cerita adalah konflik, baik konflik fisik maupun konflik batin.

Ardi menyebut salah satu bagian yang menarik dari Kalajengking Bandaran adalah benang merah cerita yang berupaya menyuarakan kelompok-kelompok yang selama ini termarginalkan.

“Bagian yang paling menarik dari buku ini adalah benang merahnya menyuarakan suara-suara yang termarginalkan, suara orang-orang yang tertindas, yang sebelumnya tidak berani bersuara atau tidak ada yang mengangkat ke permukaan,” jelasnya.

Menurutnya, sastra juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan. Kekuatan sastra, kata Ardi, terletak pada kemampuannya membangun kesadaran melalui cerita dan pengalaman manusia yang diangkat ke dalam karya.

“Sastra dapat digunakan sebagai alat untuk melawan kekuasaan atau ketidakadilan. Sastra menjadi kekuatan yang sangat kuat. Cikal bakal perang berawal dari propaganda sastra,” kata Ardi.

Lebih jauh, Kalajengking Bandaran juga ingin mengajak pembaca melihat kembali berbagai nilai dan kisah yang tumbuh di daerah-daerah di Jawa Timur. Banyak cerita lokal, menurut Ardi, memiliki nilai kemanusiaan yang penting untuk dihidupkan kembali melalui karya sastra.

“Nilai yang ingin disampaikan dari buku Kalajengking Bandaran adalah adanya nilai yang ada di setiap daerah di Jawa Timur yang memiliki banyak kisah dan akan dihidupkan kembali. Kisah-kisah yang belum terceritakan yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan, termasuk di Madiun,” pungkas Ardi.

Melalui kumpulan cerpen tersebut, sastra tidak hanya ditempatkan sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai ruang untuk mengingat kembali peristiwa, menggali cerita dari daerah, serta memberikan tempat bagi suara-suara yang selama ini belum banyak terdengar.

“Nilai yang ingin disampaikan dari buku Kalajengking bandaran adalah adanya nilai yang ada di setiap daerah di Jawa Timur yang memiliki banyak kisah dan akan hidupkan kembali. Kisah kisah yang belum terceritakan yang memiliki nilai nilai kemanusiaan. termasuk di Madiun” Kata Ardi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....