Doomscrolling: Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk?

  • 12 Sep 2026 13:59 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Membaca berita buruk secara terus-menerus melalui media sosial maupun platform digital kini menjadi kebiasaan yang semakin umum. Tanpa disadari, seseorang yang awalnya hanya membaca satu berita dapat berlanjut mencari informasi lain yang masih berkaitan hingga sulit berhenti. Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling.

“Bagi para jurnalis ada istilah bad news is good news. Manusiawi sekali ketika kita membaca suatu berita tertentu, tanpa terasa kita mencari berita lain yang related atau berita terkait. Kita tidak bisa berhenti membaca. Pertanyaannya, apakah itu salah algoritma media sosial atau memang kesalahan pribadi kita?” kata Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog.

Hal tersebut disampaikan Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), saat menjadi narasumber dalam acara Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa 8 September 2026.

Menurut Robik, doomscrolling merupakan kecenderungan seseorang untuk terus mencari atau membaca informasi negatif di internet, meskipun informasi tersebut justru dapat membuat seseorang semakin cemas, takut, maupun lelah secara emosional.

Ia menjelaskan, kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan informasi negatif sebenarnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Manusia secara alami memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap informasi yang berkaitan dengan ancaman terhadap diri maupun keselamatannya.

“Manusia cenderung lebih menyukai berita atau informasi yang memuat konten negatif daripada yang berisi hal atau kabar positif. Menurut saya, hal tersebut manusiawi mengingat manusia lebih peka terhadap sebuah hal yang mengancam diri dan keselamatannya,” tambah Robik.

Secara psikologis, kecenderungan tersebut dikenal sebagai negativity bias, yakni kecenderungan manusia memberikan perhatian yang lebih besar terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif.

“Secara psikologis, manusia memang lebih peka terhadap sesuatu yang dianggap mengancam. Hal ini sering disebut sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan memberikan perhatian lebih besar pada informasi negatif,” kata Robik.

Menurutnya, kemampuan manusia dalam mengenali ancaman pada dasarnya memiliki fungsi penting bagi keberlangsungan hidup. Dengan mengenali potensi bahaya, manusia dapat mengambil tindakan untuk melindungi diri.

Namun, perkembangan teknologi dan media sosial membuat manusia kini dapat menerima informasi mengenai berbagai ancaman dalam jumlah yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat singkat. Satu perangkat telepon seluler bahkan dapat menyajikan puluhan informasi mengenai persoalan yang terjadi di berbagai tempat.

“Kemampuan mengenali ancaman sebenarnya penting untuk bertahan hidup. Namun, saat ini ancaman tidak hanya kita temui secara langsung. Melalui ponsel, dalam waktu singkat kita bisa menerima puluhan informasi tentang berbagai masalah dari banyak tempat sekaligus,” jelas Robik.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat membuat pikiran seolah-olah terus berada dalam kondisi waspada. Ketika seseorang terus mengonsumsi berita negatif, rasa ingin tahu dan kekhawatiran dapat mendorongnya untuk kembali mencari informasi lain yang dianggap berkaitan.

“Akibatnya, pikiran bisa terasa seperti terus berada dalam kondisi waspada,” pungkas Robik.

Fenomena doomscrolling dengan demikian tidak semata-mata dapat dilihat sebagai kesalahan individu maupun kesalahan algoritma media sosial. Keduanya dapat berperan dalam membentuk pola konsumsi informasi. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk memperhatikan ancaman, sementara algoritma digital dapat memperkuat kebiasaan tersebut dengan terus menyajikan konten yang sesuai dengan perhatian dan perilaku pengguna.

Karena itu, kesadaran terhadap pola konsumsi informasi menjadi penting. Berhenti sejenak dari layar, membatasi waktu membaca berita, serta memilih sumber informasi secara lebih bijak dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan antara kebutuhan untuk mengetahui perkembangan situasi dan kesehatan emosionalnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....