Gangguan Perilaku dan Interaksi Sosial Selain Autisme

  • 22 Jul 2026 07:33 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID,Madiun – Selama ini masyarakat umumnya hanya mengenal autisme sebagai gangguan yang ditandai dengan kesulitan berinteraksi dan berkomunikasi sosial. Padahal, terdapat sejumlah gangguan perkembangan lain yang memiliki gejala serupa, namun tidak termasuk dalam spektrum autisme.

Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, Arif Budhi Santoso, menjelaskan bahwa beberapa gangguan perkembangan dapat menunjukkan perilaku seperti tidak mau bergaul, enggan berinteraksi, hingga kesulitan berkomunikasi. Meski demikian, kondisi tersebut belum tentu mengarah pada diagnosis autisme.

"Ada perilaku serta minat atau gerakan yang berulang. Seperti menyendiri, bertepuk tangan berulang-ulang, atau berjalan hilir mudik berulang-ulang. Hal ini kita sebut dengan sosial pragmatis, gangguan berkomunikasi sosial. Kondisinya mirip autisme," ujar Arif saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (18/7/2026).

Arif menjelaskan, salah satu gangguan yang kerap memiliki kemiripan dengan autisme adalah Social (Pragmatic) Communication Disorder (SCD). Penderita SCD mengalami kesulitan memahami aturan sosial dalam berkomunikasi, seperti bergantian saat berbicara, membaca bahasa tubuh, maupun memahami candaan atau sarkasme. Perbedaannya, penderita SCD tidak menunjukkan perilaku repetitif maupun minat yang sangat terbatas sebagaimana pada autisme.

Selain SCD, terdapat pula Oppositional Defiant Disorder (ODD) yang ditandai dengan pola perilaku menentang, tidak patuh, serta bermusuhan terhadap figur otoritas, seperti orang tua maupun guru. Kondisi ini sering kali mengganggu hubungan sosial anak karena mereka cenderung mudah marah dan menyimpan rasa dendam.

"Seperti kalau pagi tidak mau sekolah, marah-marah, menentang orang tua dan sebagainya," tambah Arif.

Menurut Arif, membedakan apakah perilaku anak termasuk autisme atau gangguan perkembangan lainnya memerlukan proses observasi dan evaluasi yang tidak singkat. Penelitian atau asesmen biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan agar diagnosis dapat ditegakkan secara tepat.

Ia menambahkan, apabila seorang anak hanya mengalami gangguan komunikasi, seperti malu, kurang percaya diri, tidak mau berbicara, atau enggan menjawab pertanyaan, kondisi tersebut belum tentu merupakan autisme.

"Karena kalau autisme ada gangguan seperti memproduksi suara dan merangkai kata menjadi kalimat," jelasnya.

Arif mengingatkan bahwa berbagai gangguan perkembangan maupun perilaku dapat saling tumpang tindih (overlap), sehingga masyarakat tidak dianjurkan melakukan diagnosis secara mandiri. Penegakan diagnosis yang akurat harus dilakukan oleh tenaga profesional, seperti psikolog klinis atau psikiater, melalui serangkaian evaluasi yang komprehensif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....