Alasan Mengapa Kita Takut Mengecewakan Orang Lain
- 12 Agt 2026 11:31 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID,Madiun – Keinginan untuk menjadi pribadi yang baik dan menjaga perasaan orang lain merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial. Namun, jika keinginan tersebut membuat seseorang sulit mengatakan “tidak”, selalu mengiyakan permintaan orang lain, bahkan mengabaikan kebutuhan diri sendiri, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.
Kecenderungan terlalu memprioritaskan kebutuhan dan perasaan orang lain hingga mengesampingkan diri sendiri dikenal dengan istilah people pleasing. Kondisi ini dapat membuat seseorang terus berusaha menyenangkan orang lain karena takut ditolak, tidak disukai, atau mengecewakan.
Psikolog sekaligus Founder Psikologianak.id dan Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, mengatakan, keinginan untuk berbuat baik dan diterima oleh lingkungan merupakan hal yang normal bagi manusia sebagai makhluk sosial.
“Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, ingin sekali berbuat baik, sehingga kita selalu bilang iya, boleh, iya, nggak apa-apa. Sebagai manusia dan makhluk sosial, kita selalu ingin berbuat baik. Tetapi ada suatu masa sedang tidak nyaman, tidak enak hati. Namun ada ketakutan kalau tidak mengiyakan permintaan orang lain. Dalam istilah psikologi biasanya disebut people pleasing,” ujar Robik saat menjadi narasumber dalam program Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Hal tersebut menjadi persoalan ketika kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan berubah menjadi tuntutan untuk selalu menyenangkan orang lain.
Seseorang dapat dikatakan mulai menunjukkan kecenderungan people pleasing ketika selalu merasa harus membahagiakan orang lain agar tetap disukai, sulit menolak permintaan, atau merasa sangat bersalah ketika tidak mampu memenuhi keinginan orang lain.
“Normal dan manusiawi, karena kita masih punya kebutuhan untuk diterima, kebutuhan untuk dihargai. Namun yang harus diperhatikan adalah ketika kita secara berlebihan selalu ingin membahagiakan atau menyenangkan orang lain,” kata Robik.
Ia menjelaskan, rasa takut mengecewakan orang lain dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah pengalaman masa lalu. Seseorang yang terbiasa mendapatkan penerimaan ketika mampu memenuhi harapan orang lain dapat belajar bahwa menyenangkan orang lain merupakan cara untuk mendapatkan kasih sayang atau mempertahankan hubungan.
Pengalaman dalam menjalin relasi juga dapat berpengaruh. Seseorang yang pernah ditolak, dimarahi, atau kehilangan hubungan ketika menyampaikan kebutuhan dirinya, misalnya, dapat belajar bahwa mengalah dan selalu mengikuti keinginan orang lain terasa lebih aman.
Selain pengalaman relasi, harga diri juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Ketika seseorang menilai dirinya berharga hanya karena merasa berguna bagi orang lain, kegagalan memenuhi harapan orang lain dapat memunculkan rasa bersalah, cemas, atau takut ditolak.
“Selain itu, harga diri juga berperan. Kalau seseorang merasa dirinya berharga hanya ketika berguna bagi orang lain, ia akan sangat takut ketika tidak mampu memenuhi harapan,” pungkas Robik.
Meski demikian, Robik mengingatkan agar people pleasing tidak selalu dikaitkan dengan pola asuh atau trauma masa lalu. Kecenderungan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan setiap individu memiliki pengalaman serta latar belakang yang berbeda.
Karena itu, menjadi pribadi yang peduli terhadap orang lain tidak berarti harus selalu mengatakan “iya”. Kemampuan mengenali kebutuhan diri, berani mengatakan “tidak” ketika diperlukan, serta membangun batas yang sehat merupakan bagian penting dalam menjaga hubungan sekaligus kesehatan mental.
Menjadi orang baik bukan berarti harus selalu mengorbankan diri. Membantu orang lain tetap dapat dilakukan tanpa kehilangan kemampuan untuk menjaga diri sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....