Cara Membangun Boundaries ditengah Masyarakat
- 15 Agt 2026 10:21 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Membangun batasan diri atau boundaries di lingkungan sekitar menjadi hal penting bagi setiap individu. Batasan diri diperlukan agar seseorang tetap memiliki ruang dan waktu untuk dirinya sendiri, sekaligus mampu menjaga kebutuhan pribadi tanpa mengabaikan hak dan perasaan orang lain.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membangun boundaries adalah dengan bersikap asertif. Sikap asertif merupakan kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, serta kebutuhan secara jujur dan tegas, tanpa melanggar hak maupun perasaan orang lain.
Sikap tersebut dapat berjalan beriringan dengan self-priority atau memprioritaskan diri sendiri. Hal ini berarti seseorang belajar menghargai batasan pribadi dan kebutuhan mentalnya sebelum membantu orang lain. Memprioritaskan diri sendiri bukan berarti menjadi egois, melainkan memahami kapan harus memenuhi kebutuhan pribadi dan kapan dapat memberikan bantuan kepada orang lain.
“Salah satu cara supaya kita tidak selalu merasa bersalah ketika kita takut mengecewakan orang lain atau supaya kita terhindar dari yang namanya people pleaser itu adalah set boundaries atau mencoba membangun batasan diri tanpa terus akhirnya kita merasa selfish atau egois, yaitu dengan cara bersikap asertif,” kata Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), saat menjadi narasumber acara Teman Cerita di Pro 1 RRI Madiun, Selasa (11/8/2026).
Menurut Robik, sikap asertif dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun batasan diri ketika seseorang mendapatkan ajakan maupun permintaan dari orang lain.
“Nah, ketika kita bisa bersikap asertif terhadap apa yang diajak orang lain terhadap kita, itu salah satu cara paling simpel supaya kita bisa membangun batasan diri kita tanpa kita harus merasa bahwa kita adalah orang yang egois juga,” tambahnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Robik mencontohkan sikap asertif dapat diterapkan dengan berani mengatakan tidak ketika menolak ajakan ataupun permintaan bantuan dari teman maupun orang lain.
Menurutnya, seseorang tetap dapat menolak dengan cara yang baik, misalnya dengan menyampaikan permintaan maaf sekaligus memberikan penjelasan bahwa dirinya memiliki kepentingan lain yang harus dilakukan.
“Jadi kita bersikap asertif dulu kepada orang yang mungkin mengajak kita. Nah, kita bisa terus akhirnya ngomong, ‘Sori ya, aku sebenarnya pengin.’ Aku sebenarnya ingin ikut atau ingin membantu atau ingin menolong atau ingin apa pun itu sesuai dengan ajakannya. Nah, tapi aku pun juga punya kepentingan yang harus aku lakukan pada saat ini,” jelas Robik.
Selain berani mengatakan tidak, membangun batasan diri juga dapat dilakukan dengan menentukan prioritas. Seseorang perlu memahami kegiatan mana yang bersifat mendesak dan harus segera dilakukan, serta kegiatan mana yang masih dapat ditunda.
“Dan kita pun juga untuk membangun batasan diri kita juga bisa nge-set priority. Jadi kita bisa urutin mana yang memang urgen banget yang harus dilakukan sekarang dan mana yang bisa di-delay,” ujarnya.
Robik menambahkan, memberikan sedikit validasi kepada orang yang mengajak atau meminta bantuan juga penting dalam menerapkan batasan diri. Dengan demikian, penolakan tidak harus disampaikan secara kasar, tetapi dapat dilakukan dengan tetap menghargai perasaan orang lain.
Membangun boundaries pada akhirnya bukan tentang menjauhkan diri dari orang lain, melainkan belajar mengenali kebutuhan pribadi, menentukan prioritas, dan menyampaikannya secara sehat. Dengan sikap asertif, seseorang dapat menjaga dirinya tanpa harus merasa bersalah karena mengatakan tidak, sekaligus tetap menghormati orang-orang di sekitarnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....