Gerakan Pasar Murah Digelar, Harga Cabai Rawit Masih Menjadi Sorotan
- 06 Mar 2026 14:11 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan sejumlah instansi terkait menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM). Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, pada Jumat (5/3/2026).
Gerakan ini bertujuan untuk membantu menekan harga sejumlah kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan selama Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno mengatakan, GPM dilaksanakan di 15 titik di Jawa Timur. Untuk kegiatan di Kota Madiun merupakan titik ketiga dari rangkaian pelaksanaan tersebut.
“Ini ada 15 titik. Hari ini merupakan titik yang ketiga, belum termasuk yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Nanti Kabupaten dan Kota lainnya akan mendapatkan giliran,” ujar Heru.
Dia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama lintas instansi, mulai dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan di masing-masing kota dan kabupaten setempat, hingga Bulog dan BUMN lainnya. Heru menyebutkan, beberapa komoditas memang mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir, terutama cabai rawit merah.
“Harga cabai rawit sempat menyentuh Rp110 ribu per kilogram dan saat ini berada di kisaran Rp90 ribu per kilogram, tergantung kualitas,” ujar dia.
Dalam GPM ini, cabai rawit merah dijual Rp8 ribu per ons atau per kilogram masih di angka Rp80 ribu. Selain cabai rawit merah, harga daging ayam ras juga sempat mengalami kenaikan hingga Rp43 ribu per kilogram, namun saat ini turun menjadi sekitar Rp38 ribu per kilogram.
Menurut Heru, kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dari sejumlah pasar induk. Seperti pasokan di salah satu Pasar Induk, Pare, Kabupaten Kediri, yang biasanya mencapai sekitar 30 ton per hari kini hanya sekitar 20 ton.
“Kami memperkirakan akhir Maret nanti akan ada panen di daerah dataran tinggi, sehingga pasokan meningkat dan harga bisa kembali normal,” ujar dia.
Heru menjelaskan, untuk mengendalikan harga, pemerintah melakukan sejumlah langkah. Di antaranya operasi pasar di beberapa tempat, seperti Pasar SP2KP (Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok) yang memantau inflasi, dan menggelar GPM di sejumlah wilayah. Skema lain, yakni memakai pola kerjasama antar daerah.
“Ini sebenarnya bisa, tetapi (sifatnya) kan memindahkan dari daerah sana di bawa ke sini. Tapi sebenarnya, kalau pasokannya itu belum memenuhi, posisi (harga juga belum akan) normal,” tambahnya.
Heru mengatakan, tujuan langkah ini supaya harga tidak terlalu tinggi.
“Memang saat permintaan meningkat dan pasokan berkurang, harga akan naik. Nanti akan kembali normal ketika pasokan kembali mencukupi,” ujar dia.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, mengapresiasi GPM yang diadakan inisiatif dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui DPKP di Kota Madiun tersebut.
"Ini untuk menstabilkan harga pangan di Kota Madiun. Memang dalam rangka hari besar keagamaan permintaan naik,” sebutnya.
Dia menjelaskan, selama ini Pemerintah Kota (Pemkot Madiun) melalui Dinas Perdagangan, berkolaborasi dengan Satgas Pangan, TNI, Polri, dan instansi lainnya terus memantau harga dan pasokan pangan di lapangan.
"Kami begitu intens memantau, baik harga dan pasokan. Nah, yang penting di Kota Madiun itu kebutuhan pasokan aman dan harga stabil,” ujar Plt Wali Kota yang juga ketua DPW PSI Jawa Timur itu.
Bagus mengatakan, salah satu komoditas yang saat ini menjadi perhatian adalah cabai rawit merah.
“Hari ini yang menjadi momok adalah harga cabai rawit merah yang naik luar biasa. Ini karena orang Indonesia, orang Kota Madiun ini suka makan pedes,” ujar dia sambil tertawa.
Namun, dengan GPM ini diharapkan harga cabai rawit merah bisa tekan.
“Kenaikan harga cabai rawit merah ini berpengaruh terhadap inflasi, oleh karena itu pemerintah perlu melakukan intervensi,” ucap dia.
Untuk menjaga ketersediaan pasokan, Pemerintah Kota Madiun juga menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah sekitar seperti Kediri, Magetan, dan Blitar.
“Karena di Kota Madiun tidak memiliki lahan pertanian yang luas, kami bekerja sama dengan daerah lain untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok masyarakat,” terangnya.
Sedangkan sebagai salah satu solusi kedepannya, Bagus meminta agar masyarakat bisa memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam cabai rawit merah dan sayuran lainnya.
Selain itu, Bagus juga mengatakan, pemerintah daerah akan menyiapkan subsidi apabila terjadi lonjakan inflasi yang signifikan.
Subsidi diberikan kalau ada inflasi yang luar biasa. Kalau ada (inflasi tinggi), kami ada subsidi untuk membantu dan untuk (memenuhi) kebutuhan pokok yang lain,” kata Bagus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....