Lingkungan Berisik Bisa Picu Self Harm pada Anak Berkebutuhan Khusus

  • 15 Agt 2026 17:08 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Lingkungan dengan suara yang terlalu keras dan rangsangan berlebihan dapat memicu munculnya perilaku self-harm atau menyakiti diri pada anak berkebutuhan khusus. Kondisi tersebut berkaitan dengan sensitivitas sensorik yang dimiliki sebagian anak, sehingga rangsangan yang dianggap biasa oleh orang lain dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup besar bagi mereka.

Pemilik Sekolah Anak Autis dan Special Need Delta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso, mengatakan perilaku self-harm pada anak berkebutuhan khusus dapat muncul ketika anak mengalami overstimulation atau kelebihan rangsangan.

Arif menjelaskan, rangsangan yang menjadi pemicu tidak hanya berupa suara, tetapi juga dapat berasal dari cahaya, keramaian, sentuhan maupun gerakan tertentu. Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa tidak nyaman hingga mengalami ledakan emosi yang ditunjukkan melalui menangis, menjerit, dan dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi perilaku menyakiti diri.

Menurut Arif, suara keras seperti suara mesin, aktivitas pemotongan keramik maupun kayu dapat menjadi salah satu pemicu. Bagi sebagian anak berkebutuhan khusus, suara tersebut dapat terasa sangat mengganggu karena adanya sensitivitas pada sistem sensoriknya.

“Kalau anak ini mengalami overstimulus, misalkan suara bising, cahaya yang terlalu terang, kemudian keramaian atau sentuhan, tentunya kita berusaha untuk menghindarkan dari hal tersebut,” jelas Arif belum lama ini.

Ia menambahkan, sensitivitas anak terhadap rangsangan dapat berbeda-beda. Ada anak yang sensitif terhadap suara, namun ada pula yang lebih sensitif terhadap penglihatan, sentuhan maupun gerakan.

Karena itu, orang tua dan pendamping perlu mengamati kondisi masing-masing anak untuk mengetahui rangsangan yang berpotensi menjadi pemicu. Arif mencontohkan, terdapat anak yang merasa tidak nyaman ketika melihat gerakan tertentu, bahkan sesuatu yang terlihat sederhana seperti gerakan wiper kendaraan.

Kondisi tersebut dapat memunculkan respons emosional karena anak mengalami ketidaknyamanan yang sulit disampaikan melalui komunikasi. Dalam menghadapi kondisi tersebut, orang tua maupun pendamping perlu terlebih dahulu mengamankan lingkungan dan mengurangi rangsangan yang berlebihan.

"Ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman, suara keras dan aktivitas yang menjadi pemicu sebaiknya dijauhkan sementara agar kondisi anak tidak semakin meningkat," katanya.

Selain melakukan pencegahan, Arif mengatakan anak juga perlu diperkenalkan secara bertahap dengan berbagai rangsangan. Tujuannya agar anak memiliki toleransi yang lebih baik terhadap kondisi lingkungan yang tidak selalu dapat dikendalikan.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui terapi sensori integrasi dengan aktivitas yang dikemas dalam bentuk permainan. Anak dapat diajak melakukan berbagai kegiatan seperti bermain di playground, berenang maupun bermain pasir untuk membantu mereka beradaptasi dengan beragam rangsangan sensorik.

Namun, proses tersebut tetap perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi anak. Orang tua tidak dianjurkan mengabaikan tanda-tanda ketidaknyamanan yang muncul, terutama apabila perilaku anak mulai mengarah pada tindakan yang dapat membahayakan dirinya.

Arif juga mengingatkan, orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal sebelum anak mengalami ledakan emosi. Perubahan ekspresi wajah, terlihat gelisah, tidak merespons ketika diajak berbicara, hingga perubahan gerakan dapat menjadi sinyal bahwa anak mulai merasa tidak nyaman.

Dengan mengenali pemicu dan tanda awal tersebut, orang tua maupun pendamping dapat segera mengalihkan aktivitas atau mengurangi rangsangan di sekitar anak. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kondisi berkembang menjadi meltdown maupun perilaku self-harm.

"Pemahaman terhadap sensitivitas sensorik anak menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Bukan hanya menghindari pemicu, pendampingan juga perlu membantu anak secara bertahap agar mampu menghadapi berbagai kondisi lingkungan dengan lebih baik," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....