Psikolog Ungkap Dampak Over Validation pada Gen Z

  • 30 Mei 2026 12:13 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena over validation atau kebutuhan berlebihan terhadap pengakuan dari orang lain semakin banyak terjadi di kalangan Generasi Z. Kondisi ini kerap muncul melalui media sosial, ketika individu merasa nilai dirinya bergantung pada respons lingkungan, seperti jumlah likes, komentar, hingga perhatian dari orang lain.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa kebutuhan akan validasi sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial. Namun, ketika validasi menjadi sumber utama penilaian diri, kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

“Over validation terjadi ketika seseorang merasa harus terus mendapat pengakuan agar merasa berharga atau percaya diri,” ujarnya pada Sabtu 30 Mei 2026.

Menurut Andi, Generasi Z termasuk kelompok yang rentan mengalami kondisi tersebut karena tumbuh di era digital dengan paparan media sosial yang sangat intens. Platform digital membuat proses membandingkan diri dengan orang lain menjadi lebih sering terjadi.

“Anak muda sekarang lebih mudah melihat pencapaian, gaya hidup, atau penampilan orang lain setiap hari. Tanpa disadari, mereka mulai mengukur diri berdasarkan standar sosial di media digital,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap validasi dapat memicu berbagai tekanan emosional, seperti kecemasan, rasa tidak percaya diri, hingga ketakutan ketika tidak mendapat respons sesuai harapan.

“Ketika unggahan tidak mendapat perhatian yang diinginkan, seseorang bisa merasa gagal atau kurang dihargai,” tambah Andi.

Selain itu, over validation juga dapat membuat individu kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri karena terlalu fokus memenuhi ekspektasi sosial. Akibatnya, keputusan yang diambil lebih didasarkan pada penilaian orang lain dibanding kebutuhan pribadi.

Untuk itu, Andi menekankan pentingnya membangun self-worth atau nilai diri yang sehat tanpa bergantung sepenuhnya pada pengakuan eksternal. Menurutnya, media sosial sebaiknya digunakan sebagai sarana ekspresi, bukan ukuran utama harga diri.

“Validasi dari orang lain boleh menjadi apresiasi, tetapi jangan sampai menjadi sumber utama kebahagiaan dan identitas diri,” tegasnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....