Ini Alasan Pendapatan RMKE Turun di Kuartal Tiga 2025
- 19 Jan 2026 10:05 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - PT RMK Energy Tbk (RMKE), perusahaan penyedia jasa logistik batubara terintegrasi, memberikan penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penurunan performa keuangan yang signifikan pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025. Laporan tersebut menyoroti tantangan makroekonomi global yang menekan lini bisnis utama perseroan.
Berdasarkan dokumen yang dirilis pada 16 Januari 2026, pendapatan RMKE merosot tajam menjadi Rp1,12 triliun per 30 September 2025, dibandingkan dengan Rp1,75 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Penurunan ini merepresentasikan kontraksi sebesar kurang lebih 36% secara tahunan (year-on-year).
Baca juga: BULL Resmi Masuk Pasar LNG Global
Manajemen RMKE mengatribusikan penurunan pendapatan ini terutama pada kinerja sektor penjualan batubara selama semester pertama tahun 2025. Dua faktor eksternal utama diidentifikasi sebagai pemicu hambatan tersebut:
- Koreksi Harga Komoditas: Terjadinya penurunan harga batubara global yang menggerus margin dan nilai penjualan perseroan.
- Permintaan Tiongkok yang Melemah: Penurunan volume permintaan dari China, yang merupakan pasar ekspor krusial, akibat ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh isu perang dagang global.
"Penurunan terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari Penjualan Batubara pada semester pertama Tahun 2025 akibat dari penurunan harga batubara dan menurunnya permintaan batubara dari China," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi tersebut.
Baca juga: Ini Dampak Bencana Sumatra Bagi Asuransi Ramayana
| Baca juga: Laba GEMS Terpangkas, Margin Tetap Kokoh |
Meski menghadapi tekanan pada kuartal ketiga, manajemen RMKE menyatakan optimisme terhadap pemulihan tren pendapatan di masa mendatang. Perseroan telah menyusun serangkaian strategi perbaikan, di antaranya:
- Reorientasi Pasar: Meningkatkan porsi penjualan ke pasar domestik untuk mengurangi ketergantungan pada permintaan luar negeri.
- Optimalisasi Infrastruktur: Meningkatkan volume pengangkutan melalui jalan hauling milik perseroan yang kini telah terhubung dengan beberapa tambang baru seperti WSL, DBU, dan MME.
- Efisiensi Operasional: Melakukan peningkatan kualitas jalan melalui teknologi chipseal untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan kapasitas angkut.
Manajemen mencatat bahwa aktivitas penjualan telah kembali menunjukkan pola normal pada kuartal keempat 2025 dan tren pertumbuhan ini diklaim terus berlanjut hingga awal tahun 2026. Langkah-langkah ini diharapkan mampu meningkatkan utilisasi aset sehingga biaya tetap (fixed cost) dapat dibebankan pada volume yang lebih besar, guna mengembalikan profitabilitas perusahaan.
Disclaimer: Bukan ajakan jual/beli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....