Psikolog Ungkap Alasan Gen Z Lebih Berani Melakukan Cut Off

  • 30 Sep 2026 11:44 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Istilah cut off semakin sering digunakan Generasi Z untuk menggambarkan keputusan menghentikan atau membatasi hubungan dengan seseorang yang dianggap memberikan ketidaknyamanan. Fenomena ini dapat ditemukan dalam berbagai relasi, mulai dari pertemanan hingga lingkungan sosial.

Bagi sebagian Gen Z, keputusan tersebut menjadi cara untuk menjaga batasan pribadi ketika komunikasi atau hubungan yang dijalani dinilai sudah tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, keputusan untuk memutus hubungan tetap memiliki latar belakang yang berbeda pada setiap individu.

Psikolog Andi Cahyadi, M.Psi., menjelaskan bahwa keberanian Gen Z menetapkan batasan dapat dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan psikologis dan kualitas hubungan.

“Ketika seseorang mulai memahami batasan dirinya, dia akan lebih mampu mengenali perilaku apa yang bisa diterima dan apa yang membuat dirinya tidak nyaman. Dari situ muncul keberanian untuk mengatakan tidak atau mengambil jarak,” jelasnya pada Rabu 30 September 2026.

Menurutnya, perkembangan media sosial juga turut membuat istilah seperti boundaries, toxic relationship, dan self-care semakin dikenal. Informasi tersebut dapat membantu individu memahami pola hubungan dan kebutuhan dirinya, meskipun penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan situasi masing-masing.

Selain itu, Gen Z cenderung memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai perspektif mengenai hubungan interpersonal. Hal tersebut membuat sebagian dari mereka lebih terbuka membicarakan pengalaman dalam pertemanan dan menetapkan batasan ketika menghadapi situasi yang dianggap tidak sehat.

Namun, psikolog mengingatkan bahwa kesadaran terhadap boundaries tidak berarti setiap konflik harus berakhir dengan cut off. Perbedaan pendapat dan ketidaknyamanan dalam hubungan masih dapat diselesaikan melalui komunikasi apabila kedua pihak bersedia.

“Cut off sebaiknya bukan respons otomatis ketika kita mengalami konflik. Perlu dilihat apakah masalahnya bisa dibicarakan, apakah batasan sudah disampaikan, dan bagaimana pihak lain meresponsnya,” tambahnya.

Keputusan untuk menjaga jarak juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman seseorang dalam hubungan sebelumnya. Pengalaman yang membuat individu merasa batasannya tidak dihargai dapat membuatnya lebih berhati-hati dalam mempertahankan hubungan berikutnya.

Di sisi lain, kemampuan menetapkan batasan tidak selalu harus diwujudkan dengan memutus komunikasi sepenuhnya. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat mengurangi intensitas interaksi, membatasi topik pembicaraan, atau memberikan ruang sementara.

Psikolog juga menilai penting bagi Gen Z untuk memahami perbedaan antara menjaga batasan dan menghindari masalah. Boundaries bertujuan menjaga hubungan tetap sehat dan melindungi kebutuhan pribadi, sedangkan menghindari konflik tanpa menyelesaikan masalah dapat membuat persoalan yang sama muncul kembali.

Karena itu, sebelum melakukan cut off, seseorang perlu melakukan refleksi terhadap alasan dan tujuan keputusan tersebut. Apakah keputusan diambil untuk menjaga diri, atau hanya sebagai reaksi terhadap emosi sesaat.

Pada akhirnya, keberanian menetapkan batasan merupakan bagian dari kemampuan seseorang dalam mengelola hubungan sosial. Namun, batasan yang sehat tetap membutuhkan komunikasi, pertimbangan, dan kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap keputusan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....