Menghadapi Haters tanpa Terbawa Emosi, Ini Pesan Psikolog untuk Gen Z
- 28 Sep 2026 17:21 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Media sosial menjadi ruang bagi Generasi Z untuk mengekspresikan diri, membagikan karya, hingga menyampaikan pendapat. Namun, interaksi di ruang digital tidak selalu berjalan positif.
Komentar negatif, hujatan, hingga kritik yang menjatuhkan kerap menjadi tantangan yang dapat memengaruhi kenyamanan pengguna. Bagi sebagian Gen Z, komentar negatif dari pengguna lain atau yang dikenal sebagai haters dapat memicu rasa marah, kecewa, hingga keinginan untuk membalas.
Jika tidak dikelola dengan baik, respons emosional tersebut berpotensi memperpanjang konflik di ruang digital.
Psikolog Andi Cahyadi, M.Psi., menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu hal penting ketika menghadapi komentar negatif. Seseorang perlu memahami bahwa munculnya emosi merupakan respons yang wajar, tetapi cara mengekspresikannya tetap perlu dipertimbangkan.
Menurutnya, langkah awal yang dapat dilakukan adalah memberikan jeda sebelum merespons komentar yang memancing emosi. Mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat membantu seseorang melihat situasi dengan lebih jernih dan menentukan respons yang tepat.
“Ketika menerima komentar yang menyakitkan, jangan terburu-buru membalas. Berikan waktu kepada diri sendiri untuk memahami emosi yang muncul dan mempertimbangkan apakah komentar tersebut memang perlu ditanggapi,” jelasnya pada Senin (28/9/2026)
Ia mengatakan, Gen Z juga perlu membedakan antara kritik yang membangun dan komentar yang bertujuan merendahkan. Kritik yang disertai alasan jelas dapat menjadi bahan evaluasi, sedangkan penghinaan tidak harus dijadikan ukuran untuk menilai kemampuan maupun harga diri.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa seseorang tidak memiliki kendali penuh terhadap pendapat orang lain. Hal yang dapat dikendalikan adalah cara merespons, batasan interaksi, serta keputusan untuk tetap menggunakan media sosial secara sehat.
Psikolog juga menyarankan agar pengguna memanfaatkan fitur digital seperti membatasi komentar, membisukan akun, atau memblokir pengguna yang terus memberikan respons negatif. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi paparan terhadap interaksi yang mengganggu kenyamanan.
“Menjaga ketenangan bukan berarti membiarkan orang lain merendahkan kita. Kita tetap bisa menetapkan batasan dan mengambil tindakan yang diperlukan tanpa harus terlibat dalam pertengkaran,” tambahnya.
Ketika komentar negatif mulai memengaruhi suasana hati dan aktivitas sehari-hari, mengambil jeda dari media sosial dapat menjadi pilihan. Berbagi cerita dengan orang tepercaya juga dapat membantu seseorang memperoleh dukungan emosional.
Apabila komentar negatif berkembang menjadi perundungan digital yang berulang, disertai ancaman atau penyebaran informasi pribadi, pengguna dapat menyimpan bukti dan melaporkan akun terkait melalui platform yang digunakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....