Ustaz Hebni Syarif: Kejujuran Harus Menjadi Karakter Seorang Muslim

  • 08 Sep 2026 07:03 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Kejujuran merupakan salah satu karakter utama yang harus melekat dalam diri seorang Muslim. Meneladani Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mencintai dan memperbanyak selawat, tetapi juga dengan mengikuti akhlak beliau, termasuk dalam hal kejujuran.

Umat Islam dituntut untuk menjadikan kejujuran sebagai bagian dari kehidupan, baik dalam ucapan, perbuatan maupun dalam menjalankan amanah. Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat At-Taubah ayat 119.

Ustaz Hebni Syarif, M.Pd., menjelaskan bahwa menjadi umat Rasulullah SAW berarti berusaha menampilkan akhlak yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Salah satu akhlak yang paling mendasar adalah sifat jujur atau shiddiq.

“Kalau kita mengaku sebagai umat Rasulullah, maka salah satu konsekuensinya adalah berusaha mengikuti akhlak beliau. Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Karena itu, kejujuran bukan sekadar pilihan, tetapi menjadi bagian penting dari identitas seorang Muslim,” ujar Ustaz Hebni Syarif, Selasa, 8 September 2026.

Menurutnya, kejujuran tidak boleh dipahami sebatas tidak berbohong. Kejujuran memiliki cakupan yang lebih luas, yakni kesesuaian antara apa yang ada dalam hati, yang diucapkan dan yang dilakukan.

“Jujur itu bukan hanya ketika berbicara. Kita juga harus jujur dalam bekerja, jujur dalam menjalankan amanah, jujur dalam berdagang, jujur kepada keluarga, jujur kepada masyarakat, dan yang paling penting jujur kepada Allah SWT,” jelasnya.

Landasan penting mengenai kejujuran terdapat dalam QS At-Taubah ayat 119:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bergabunglah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Ayat tersebut menempatkan kejujuran dalam satu rangkaian dengan ketakwaan. Tafsir atas ayat ini menjelaskan bahwa orang beriman diperintahkan untuk bertakwa sekaligus berada bersama orang-orang yang benar atau jujur dalam ucapan, perilaku dan perbuatannya. Ustaz Hebni mengatakan, perintah “kūnū ma‘aṣ-ṣādiqīn” atau bersama orang-orang yang benar juga mengandung pesan agar seorang Muslim memilih lingkungan yang baik.

“Lingkungan sangat menentukan karakter seseorang. Kalau kita ingin menjadi orang yang jujur, maka kita harus dekat dengan orang-orang yang jujur. Sebaliknya, kalau seseorang terus-menerus berada dalam lingkungan yang menganggap kebohongan sebagai sesuatu yang biasa, lama-kelamaan kebohongan itu bisa dianggap wajar,” katanya.

Karena itu, menurutnya, membangun budaya kejujuran harus dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, sekolah, tempat kerja, organisasi dan masyarakat.

Rasulullah SAW merupakan teladan utama bagi umat Islam. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, Muhammad SAW telah dikenal masyarakat sebagai pribadi yang memiliki sifat ash-shiddiq dan al-amin, yakni orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Menurut Ustaz Hebni, keteladanan tersebut seharusnya tidak berhenti pada kekaguman terhadap sejarah kehidupan Nabi.

“Jangan sampai kita hanya mengatakan bahwa Rasulullah adalah teladan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita justru mudah berbohong. Meneladani Rasulullah berarti membawa nilai-nilai akhlak beliau ke dalam kehidupan kita,” tuturnya.

Ia menambahkan, kejujuran sering kali diuji dalam situasi yang tidak mudah. Seseorang mungkin mudah berkata jujur ketika tidak ada risiko. Namun, kualitas kejujuran justru terlihat ketika berkata benar dapat menimbulkan konsekuensi tertentu.

“Orang yang jujur tidak selalu memilih jalan yang paling mudah. Terkadang kejujuran membuat kita harus mengakui kesalahan, meminta maaf, bahkan menerima konsekuensi. Tetapi itulah bagian dari karakter seorang mukmin,” jelasnya.

Ustaz Hebni menilai rangkaian ayat tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kejujuran terkadang membutuhkan keberanian.

“Kejujuran itu membutuhkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Kita bisa belajar bahwa mengakui kesalahan dengan jujur jauh lebih baik daripada mempertahankan kebohongan dengan berbagai alasan,” ujarnya.

Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, tantangan kejujuran juga semakin kompleks. Informasi dapat disebarkan dengan cepat, sementara tidak semua informasi yang beredar benar.

Ustaz Hebni mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menyebarkan informasi sebelum memastikan kebenarannya.

“Kejujuran di era digital juga berarti tidak membuat berita palsu, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas, tidak memanipulasi fakta, dan tidak membangun citra diri dengan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan,” katanya.

Menurutnya, seorang Muslim harus mempertimbangkan dampak setiap informasi yang disampaikan. Jari dan perangkat digital, kata dia, juga dapat menjadi sarana untuk melakukan kebaikan maupun keburukan.

“Jangan sampai lisan kita sudah belajar untuk jujur, tetapi media sosial kita justru menjadi tempat menyebarkan sesuatu yang tidak benar,” tambahnya.

Ustaz Hebni menekankan bahwa membangun karakter jujur tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kejujuran justru perlu dilatih melalui kebiasaan sederhana.

Mulai dari berkata apa adanya, mengembalikan barang yang bukan milik kita, mengakui kesalahan, tidak mengambil hak orang lain, menyampaikan informasi sesuai fakta, hingga menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

“Kalau kita ingin menjadi umat Rasulullah yang jujur, latihlah diri dari hal-hal kecil. Jangan menunggu menjadi orang besar untuk belajar jujur. Kejujuran harus menjadi kebiasaan sejak sekarang,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kejujuran memiliki dimensi spiritual. Seorang Muslim harus menyadari bahwa meskipun manusia tidak mengetahui sebuah kebohongan, Allah SWT tetap mengetahuinya.

“Ukuran kejujuran seorang mukmin bukan hanya ketika ada manusia yang melihat. Tetapi ketika tidak ada seorang pun yang melihat pun, dia tetap memilih untuk jujur karena yakin Allah Maha Mengetahui,” tegasnya.

Kejujuran juga menjadi fondasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam keluarga, kejujuran membangun kepercayaan antara suami, istri dan anak. Dalam pendidikan, kejujuran mencegah kecurangan. Dalam pekerjaan, kejujuran melahirkan profesionalisme. Sementara dalam perdagangan, kejujuran menjaga hak antara penjual dan pembeli.

“Kejujuran adalah modal sosial sekaligus modal spiritual. Masyarakat yang jujur akan lebih mudah membangun kepercayaan, dan orang yang jujur akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah,” ujarnya.

Pada akhirnya, Ustaz Hebni mengajak umat Islam untuk tidak menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW hanya sebagai simbol atau ucapan.

“Menjadi umat Rasulullah bukan hanya soal identitas. Kita harus berusaha mengikuti sunnah beliau dalam akidah, ibadah dan akhlak. Salah satu akhlak yang harus kita hidupkan adalah kejujuran,” katanya.

Ia mengajak umat Islam menjadikan QS At-Taubah ayat 119 sebagai pengingat dalam kehidupan sehari-hari: bertakwa kepada Allah dan senantiasa bersama orang-orang yang benar.

“Semoga kita termasuk umat Rasulullah yang tidak hanya mencintai beliau dengan lisan, tetapi juga meneladani akhlaknya. Mari kita biasakan berkata benar, berbuat benar, menunaikan amanah dan berani mengakui kesalahan. Karena kejujuran adalah jalan untuk menjaga kemuliaan diri sekaligus mendekatkan kita kepada Allah SWT,” pungkas Ustaz Hebni Syarif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....