Ustaz Amir Abdullah: Jadilah Penyemangat, Bukan Pengadu Domba
- 11 Agt 2026 06:11 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Memberikan dukungan dan semangat kepada orang lain merupakan hal positif dalam kehidupan. Namun, semangat tersebut harus dijaga agar tidak berubah menjadi provokasi yang memicu kebencian dan permusuhan.
Layaknya suporter sepak bola yang memberikan dukungan kepada tim kesayangannya, tujuan utama seorang suporter adalah menyemangati, bukan memprovokasi. Mereka dapat memberikan dukungan melalui nyanyian, tepuk tangan, maupun yel-yel, tetapi semangat tersebut tidak seharusnya diarahkan untuk menghina atau memancing emosi pendukung tim lain.
Gambaran tersebut menjadi salah satu pelajaran penting dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam menghindari sifat provokatif dan namimah, yakni perilaku menyampaikan perkataan atau informasi dengan tujuan merusak hubungan antarmanusia.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Amir Abdullah, M.Pd., dalam kajian Mutiara Pagi dengan tema “Jauhi Sifat Provokatif (Namimah)”.
Menurut Ustaz Amir, seseorang harus mampu membedakan antara memberikan semangat dengan melakukan provokasi. Semangat yang positif seharusnya mendorong seseorang melakukan kebaikan, sementara provokasi justru dapat membangkitkan emosi dan mendorong terjadinya konflik.
Larangan terhadap perilaku tersebut juga ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat 10–11. Allah SWT berfirman:وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah, lagi hina, yang suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah (namimah).”
(QS. Al-Qalam: 10–11)
Frasa “مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ” (masyaa'in binamiim) secara umum menggambarkan seseorang yang gemar berjalan ke sana kemari membawa dan menyebarkan berita atau perkataan yang dapat menimbulkan kerusakan hubungan.
"Ayat tersebut menjadi peringatan agar seorang Muslim tidak menjadikan perkataan sebagai alat untuk memperkeruh keadaan. Informasi mengenai seseorang tidak seharusnya disampaikan kepada pihak lain apabila hal itu hanya akan menimbulkan kebencian, perselisihan, atau permusuhan," jelas ustaz Amir, Selasa 11 Agustus 2026.
Ustaz Amir Abdullah menjelaskan, persoalan namimah tidak boleh dianggap sebagai perkara kecil. Sebab, sebuah perkataan yang disampaikan dari satu pihak kepada pihak lain dapat berkembang menjadi kesalahpahaman dan konflik yang lebih besar. "Terlebih di era media sosial, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Seseorang dapat meneruskan pesan, potongan video, komentar, atau cerita mengenai orang lain hanya dalam hitungan detik," jelasnya.
Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri untuk tabayun dan berpikir sebelum berbicara maupun membagikan informasi. Tidak semua informasi yang didengar harus disampaikan kembali. Tidak semua persoalan orang lain harus menjadi konsumsi publik.
Larangan namimah juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis.
Dalam Sahih Muslim 105a, Hudzaifah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
Peringatan serupa terdapat dalam Sahih al-Bukhari 6055, ketika Rasulullah SAW melewati dua kuburan dan menjelaskan bahwa salah satu penghuni kubur mendapatkan siksa karena perilakunya melakukan namimah. Hadis tersebut menunjukkan betapa seriusnya persoalan menjaga lisan. Perkataan yang digunakan untuk mengadu domba dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial sekaligus menjadi persoalan dalam kehidupan akhirat.
Ustaz Amir mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari dunia olahraga, khususnya sepak bola. Seorang suporter hadir untuk memberikan energi positif kepada timnya. "Ketika tim bermain buruk, suporter idealnya memberikan dukungan agar pemain kembali bersemangat dan mampu memperbaiki permainan," tuturnya.
Bukan justru memprovokasi lawan, menghina pendukung lain, atau menciptakan keributan. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika melihat teman, keluarga, tetangga, atau rekan kerja menghadapi persoalan, seseorang sebaiknya menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi pihak yang memperbesar masalah.
“Menyemangati itu berbeda dengan memprovokasi. Kritik juga berbeda dengan mencela. Memberikan nasihat berbeda dengan menyebarkan aib,” demikian pesan yang dapat menjadi pegangan dalam menjaga hubungan sosial. Pada akhirnya, menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim.
Semangat harus diarahkan untuk membangun. Kritik harus disampaikan dengan cara yang baik. Informasi harus disaring sebelum diteruskan. Dan persoalan antarmanusia hendaknya diselesaikan dengan tabayun, bukan dengan menyebarkan cerita dari satu pihak ke pihak lainnya.
Jadilah seperti suporter yang memberikan semangat kepada timnya: hadir untuk membangun kepercayaan, bukan membakar emosi; menyatukan, bukan memecah; dan menyemangati, bukan memprovokasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....