Ustadz Santoso Ingatkan Etika dalam Perayaan Kemerdekaan
- 22 Agt 2026 10:22 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan berbagai kegiatan hiburan dan kreativitas masyarakat. Namun, kemeriahan perayaan kemerdekaan dinilai tetap harus memperhatikan etika, norma kesopanan, serta nilai budaya yang menjadi karakter bangsa Indonesia.
Ustadz Santoso, S.Ag., M.M., mengingatkan masyarakat agar kebebasan berekspresi dalam perayaan kemerdekaan tidak justru mengikis nilai kesopanan dan budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menyoroti penggunaan pakaian yang dinilai terlalu terbuka dalam kegiatan masyarakat. Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap norma kesopanan.
“Ibu-ibu pakai celana apa baju renang saja. Ini adalah etika yang akan merusak para generasi-generasi yang akan datang,” ujar Ustadz Santoso.
Menurutnya, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kesantunan dan akhlak. Karena itu, ekspresi dalam kegiatan masyarakat seharusnya tetap mempertimbangkan norma yang berlaku di lingkungan sosial dan budaya masing-masing.
“Kita orang Indonesia ini terkenal dengan santun ya. Norma orang-orangnya berakhlak tinggi,” katanya.
Ustadz Santoso juga menegaskan bahwa penggunaan pakaian yang memperlihatkan bagian tubuh tertentu masih dianggap tabu dalam berbagai lingkungan budaya di Indonesia.
| Baca juga: Nikmat Dunia yang Sering di Lupakan Manusia |
“Memamerkan dada, memamerkan paha di Indonesia khususnya itu tabu. Di mana pun, di suku mana pun berada di Sumatra, Kalimantan, Papua itu adalah tabu ya memamerkan bagian-bagian yang erotis. Ini perlu kita evaluasi untuk tidak menodai kemerdekaan ini,” jelasnya.
Selain persoalan etika berpakaian, ia menyoroti budaya hiburan masyarakat yang terkadang dikaitkan dengan konsumsi minuman keras. Menurutnya, kesenian tradisional seperti reog tidak seharusnya identik dengan kebiasaan mabuk atau konsumsi minuman beralkohol.
“Ini kayaknya kalau tidak dibarengi dengan minuman keras, mendem, ya itu kayaknya enggak seru. Sebenarnya itu adalah suatu hal yang salah,” tegasnya.
Ia menilai seni dan musik tradisional justru dapat dikembangkan dengan muatan yang lebih positif. Misalnya, pertunjukan reog dapat dipadukan dengan lagu-lagu bernuansa religi maupun lagu perjuangan untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan.
“Seharusnya kita boleh dengan lagu apa, musik reog itu bisa mengiringi lagu shalawat, lagu kemerdekaan, ya itu bisa. Kenapa tidak itu?” ungkapnya.
Menurut Ustadz Santoso, kemeriahan acara juga tidak harus selalu disertai minuman beralkohol. Masyarakat dapat menyediakan berbagai minuman nonalkohol sebagai alternatif untuk menemani kegiatan hiburan.
“Minuman apa harus pakai yang namanya alkohol? Tidak juga. Boleh minuman segar, kopi hangat, atau kopi susu,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar kebiasaan yang bertentangan dengan nilai agama, etika, moral, dan budaya tidak sampai berkembang menjadi budaya baru di tengah masyarakat.
“Kalau itu nanti terus membudaya pada bangsa kita, berarti kita telah mengkhianati daripada perjuangan para pahlawan yang telah menghadiahkan dengan rahman Allah,” ujarnya.
Ustadz Santoso mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan sebagai momentum untuk bersyukur sekaligus menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang patut disyukuri dan dijaga bersama.
“Kita ini sangat bersyukur, negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negara yang sangat bagus dan Allah mengampuni semua dosa-dosa kita,” pungkasnya.
Ia berharap perayaan kemerdekaan tetap berlangsung meriah, namun diisi dengan kegiatan yang kreatif, sehat, santun, dan mampu memberikan teladan positif bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....