Merdeka dari FOMO, Psikolog Ajak Gen Z Tentukan Pilihan Sendiri

  • 20 Agt 2026 23:18 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO semakin dekat dengan kehidupan Generasi Z di era digital. Kemudahan mengakses media sosial membuat anak muda dapat mengetahui berbagai aktivitas, pencapaian, hingga tren yang sedang dilakukan orang lain. Kondisi tersebut terkadang menimbulkan perasaan takut tertinggal dan mendorong seseorang mengikuti sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa FOMO pada dasarnya berkaitan dengan kekhawatiran seseorang akan kehilangan pengalaman, kesempatan, atau momen yang sedang dinikmati orang lain. Menurutnya, kondisi tersebut semakin mudah muncul karena media sosial memberikan paparan informasi secara terus-menerus.

“Ketika kita setiap saat melihat orang lain melakukan sesuatu yang dianggap menarik atau berhasil, muncul pikiran bahwa kita juga harus mengalaminya. Dari sinilah FOMO bisa muncul,” ujarnya pada Rabu (19/8/2026)

Menurut Andi, FOMO tidak selalu berkaitan dengan hal besar. Keputusan sederhana seperti mengikuti tren, membeli barang, datang ke tempat tertentu, mengikuti gaya hidup, hingga memilih pekerjaan juga dapat dipengaruhi oleh keinginan untuk tidak merasa tertinggal dari lingkungan.

“Masalahnya bukan pada mengikuti tren atau mencoba hal baru. Yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan tersebut memang kita inginkan atau hanya karena takut tertinggal dari orang lain,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menentukan prioritas. Gen Z yang terus terpapar pencapaian orang lain di media sosial dapat merasa kehidupannya kurang menarik atau kurang berhasil.

“Media sosial membuat kita melihat hasil akhir orang lain, sementara kita menjalani proses kehidupan sendiri. Perbandingan seperti ini tentu tidak selalu adil,” tambah Andi.

Menurutnya, salah satu cara untuk terbebas dari FOMO adalah mengenali kebutuhan dan nilai pribadi. Sebelum mengikuti tren atau mengambil keputusan, seseorang dapat mempertanyakan apakah hal tersebut benar-benar memberikan manfaat dan sesuai dengan tujuan hidupnya.

“Belajar bertanya kepada diri sendiri, ‘Apakah saya memang menginginkan ini atau hanya takut tertinggal?’ Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih sadar,” katanya.

Andi juga mengingatkan bahwa mengatakan tidak terhadap sebuah tren bukan berarti seseorang kehilangan kesempatan. Setiap orang memiliki waktu, kemampuan, kondisi finansial, serta prioritas yang berbeda.

“Tidak mengikuti semua tren bukan berarti kita tertinggal. Justru kita sedang belajar menentukan mana yang penting dan mana yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita,” tegasnya.

Selain itu, Gen Z perlu memahami bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian dari kehidupan seseorang. Apa yang terlihat dalam unggahan belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi orang tersebut.

“Jangan menjadikan media sosial sebagai ukuran mutlak keberhasilan hidup. Kita perlu memiliki standar keberhasilan yang berasal dari diri sendiri,” ujarnya.

Andi menilai, kemampuan mengambil keputusan secara mandiri merupakan bagian dari kemerdekaan psikologis. Seseorang tetap dapat mendengarkan pendapat orang lain, tetapi keputusan akhir perlu disesuaikan dengan nilai, kebutuhan, dan kemampuan dirinya.

“Menjadi merdeka bukan berarti tidak peduli terhadap lingkungan. Merdeka berarti mampu memilih dengan sadar tanpa selalu dikendalikan oleh rasa takut terhadap penilaian orang lain,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....