Psikolog Soroti Tekanan Gen Z untuk Terlihat Sukses di Era Digital
- 20 Agt 2026 23:17 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Perkembangan media sosial membuat Generasi Z semakin mudah melihat berbagai pencapaian orang lain. Mulai dari pendidikan, karier, gaya hidup, hingga aktivitas sehari-hari, semuanya dapat ditampilkan dalam ruang digital. Kondisi tersebut dapat memberikan inspirasi, tetapi juga berpotensi menciptakan tekanan untuk terlihat sukses.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa tekanan untuk terlihat berhasil dapat muncul ketika seseorang mulai menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar bagi dirinya sendiri. Menurutnya, paparan terhadap kehidupan orang lain secara terus-menerus membuat proses perbandingan sosial semakin mudah terjadi.
“Ketika seseorang setiap hari melihat orang lain mendapatkan pencapaian tertentu, bisa muncul pikiran bahwa dirinya juga harus mencapai hal yang sama. Kalau tidak, ia merasa tertinggal atau kurang berhasil,” ujarnya pada Rabu (19/8/2026)
Menurut Andi, tekanan tersebut tidak selalu berasal dari orang lain secara langsung. Sering kali, tekanan justru muncul dari standar yang dibentuk oleh individu berdasarkan apa yang dilihatnya di media sosial.
“Media sosial sebenarnya hanya menampilkan sebagian dari kehidupan seseorang. Namun, ketika kita melihat banyak orang terlihat sukses, kita bisa lupa bahwa setiap orang memiliki proses, tantangan, dan kondisi yang berbeda,” jelasnya.
Ia menambahkan, budaya membagikan pencapaian di media sosial juga dapat membuat sebagian anak muda merasa perlu membangun citra tertentu. Keinginan mendapatkan pengakuan melalui respons positif dari lingkungan dapat membuat seseorang semakin fokus pada bagaimana dirinya terlihat dibandingkan bagaimana kondisi dirinya sebenarnya.
“Masalahnya bukan ketika seseorang ingin membagikan pencapaiannya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika nilai diri mulai bergantung pada bagaimana orang lain melihat kita,” tambah Andi.
Menurutnya, tekanan untuk terlihat sukses juga dapat membuat Gen Z sulit menikmati proses. Seseorang bisa merasa harus segera memiliki pekerjaan bagus, mencapai prestasi, memiliki penghasilan tertentu, atau menunjukkan perkembangan hidup agar tidak dianggap tertinggal.
“Setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Tidak semua orang harus mencapai sesuatu pada usia yang sama,” katanya.
Andi mengingatkan agar generasi muda membedakan antara motivasi untuk berkembang dan tekanan untuk terlihat berhasil. Keinginan untuk berkembang dapat menjadi hal positif ketika berasal dari tujuan pribadi, sedangkan tekanan dapat muncul ketika seseorang terus mengejar pengakuan eksternal.
“Coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah kita melakukan sesuatu karena memang penting bagi kita atau karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain,” ujarnya.
Ia juga mengajak Gen Z membangun ukuran kesuksesan yang lebih personal. Kesuksesan tidak selalu harus berupa pencapaian besar yang dapat dipamerkan di media sosial, tetapi juga dapat berupa kemampuan belajar, menjaga hubungan yang sehat, mengembangkan keterampilan, dan menjalani kehidupan sesuai kemampuan.
“Kesuksesan sebaiknya tidak hanya diukur dari apa yang terlihat oleh orang lain. Ada proses pribadi yang juga perlu dihargai,” tegas Andi.
Selain itu, Andi menyarankan agar generasi muda lebih kritis dalam menggunakan media sosial. Melihat keberhasilan orang lain dapat dijadikan sumber inspirasi, tetapi tidak perlu menjadi alasan untuk terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
“Gunakan media sosial sebagai sumber informasi dan inspirasi, bukan sebagai alat untuk menentukan nilai diri,” katanya.
Ia berharap Gen Z dapat memahami bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu berjalan cepat dan tidak harus mengikuti standar yang sama.
“Tidak apa-apa jika proses kita berbeda. Yang penting adalah mengetahui apa yang ingin dicapai, memahami kemampuan diri, dan terus berkembang tanpa harus selalu membuktikan diri kepada orang lain,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....