Gen Z dan Kemerdekaan Memilih Karier, Ini Kata Psikolog
- 20 Agt 2026 23:16 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Memilih karier menjadi salah satu keputusan penting yang dihadapi Generasi Z ketika memasuki dunia kerja. Di tengah berkembangnya berbagai profesi baru, pekerjaan berbasis digital, hingga peluang freelance dan kewirausahaan, Gen Z memiliki pilihan karier yang semakin beragam. Kondisi tersebut membuat kebebasan menentukan pekerjaan sesuai minat dan kemampuan menjadi perhatian tersendiri.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa kemerdekaan dalam memilih karier dapat dimaknai sebagai kemampuan seseorang menentukan arah pekerjaan berdasarkan minat, nilai, kemampuan, dan tujuan hidupnya. Menurutnya, keputusan karier sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada tekanan dari lingkungan.
“Memilih karier secara merdeka bukan berarti seseorang bebas memilih tanpa pertimbangan. Justru, seseorang perlu mengenali dirinya, memahami konsekuensi pilihannya, kemudian menentukan keputusan secara sadar,” ujarnya pada Rabu (19/8/2026)
Menurut Andi, Generasi Z memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Melalui internet dan media sosial, mereka dapat mengenal berbagai profesi yang sebelumnya mungkin tidak banyak diketahui, termasuk content creator, desainer, freelancer, pekerja digital, hingga profesi kreatif lainnya.
Namun, banyaknya pilihan juga dapat menimbulkan tantangan. Gen Z dapat merasa bingung menentukan arah ketika terlalu banyak melihat pilihan karier dan pencapaian orang lain di media sosial.
“Banyaknya pilihan memang memberikan kebebasan, tetapi juga bisa menimbulkan kebingungan. Apalagi ketika seseorang terus membandingkan perjalanan kariernya dengan orang lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, tekanan keluarga dan lingkungan juga masih dapat memengaruhi keputusan karier generasi muda. Tidak sedikit anak muda yang memilih bidang tertentu karena dianggap lebih bergengsi, memiliki penghasilan tinggi, atau sesuai dengan harapan keluarga.
“Keinginan keluarga tentu perlu didengarkan. Tetapi keputusan akhir mengenai karier perlu mempertimbangkan siapa yang akan menjalani pekerjaan tersebut. Karena individu itulah yang nantinya menghadapi tuntutan dan prosesnya,” tambah Andi.
Menurutnya, kemerdekaan memilih karier bukan berarti mengabaikan masukan dari orang lain. Justru, seseorang perlu mampu menerima berbagai pertimbangan, kemudian menyaringnya berdasarkan kondisi dan tujuan pribadi.
“Mandiri dalam mengambil keputusan bukan berarti tidak mendengarkan orang lain. Kita boleh meminta saran, tetapi tetap perlu memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri,” katanya.
Andi juga mengingatkan Gen Z agar tidak terburu-buru menganggap satu pilihan karier sebagai keputusan seumur hidup. Dunia kerja terus berkembang sehingga seseorang dapat belajar, mencoba pengalaman baru, dan melakukan penyesuaian sepanjang perjalanan kariernya.
“Karier adalah proses. Ketika pilihan pertama ternyata tidak sesuai, seseorang masih dapat mengevaluasi dan menentukan langkah berikutnya. Yang penting adalah belajar dari pengalaman,” ujarnya.
Selain minat, ia menekankan pentingnya mempertimbangkan kemampuan, kondisi ekonomi, peluang pekerjaan, serta kesiapan untuk mengembangkan keterampilan. Dengan demikian, keputusan karier tidak hanya berdasarkan apa yang disukai, tetapi juga mempertimbangkan realitas yang akan dihadapi.
“Minat penting, tetapi perlu dipadukan dengan kemampuan dan perencanaan. Kebebasan memilih akan lebih bermakna ketika disertai tanggung jawab,” tegas Andi.
Ia berharap Gen Z tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dalam menentukan karier. Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan waktu perkembangan yang berbeda.
“Tidak perlu memaksakan diri mengikuti jalur orang lain hanya karena terlihat sukses. Yang penting adalah menemukan jalur yang sesuai dengan diri sendiri dan terus mengembangkan kemampuan di dalamnya,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....