Gen Z Tak Suka Jam Kerja Kaku? Ini Penjelasan Psikolog

  • 16 Agt 2026 08:18 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Preferensi terhadap pola kerja yang lebih fleksibel semakin menjadi perhatian di kalangan Generasi Z. Jam kerja yang kaku sering dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan sebagian pekerja muda yang juga memperhatikan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Namun, psikolog menilai fenomena tersebut tidak bisa semata-mata dipahami sebagai keengganan Gen Z mengikuti aturan kerja.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa keinginan terhadap fleksibilitas kerja lebih berkaitan dengan kebutuhan akan otonomi dan keseimbangan hidup. Menurutnya, fleksibilitas tidak selalu berarti bebas bekerja tanpa aturan, tetapi memberikan ruang bagi pekerja untuk mengatur cara menyelesaikan tanggung jawabnya.

“Yang dicari sebenarnya bukan kebebasan tanpa batas, tetapi adanya ruang untuk mengatur pekerjaan secara lebih adaptif selama target dan tanggung jawab tetap terpenuhi,” ujarnya pada Jumat (14/8/2026)

Menurut Andi, perubahan cara pandang terhadap pekerjaan juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran mengenai work-life balance. Survei Deloitte menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan dan pekerjaan menjadi salah satu prioritas utama Gen Z ketika mempertimbangkan pekerjaan, sementara jam kerja panjang dan kurangnya kendali atas bagaimana atau di mana pekerjaan dilakukan turut dikaitkan dengan stres.

Ia menambahkan, fleksibilitas dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menyesuaikan waktu kerja dengan kondisi dan kebutuhan pribadi. Hal tersebut dapat membantu pekerja mengelola energi dan menjaga produktivitas.

“Setiap orang memiliki waktu ketika konsentrasinya berada pada kondisi terbaik. Fleksibilitas dapat memberikan ruang untuk menemukan pola kerja yang lebih sesuai, selama tidak mengganggu tanggung jawab,” jelasnya.

Namun, Andi menegaskan bahwa Gen Z tidak serta-merta menolak keberadaan kantor atau aturan kerja. Data terbaru justru menunjukkan sebagian pekerja Gen Z menginginkan interaksi langsung di kantor untuk membangun hubungan profesional, mendapatkan pengalaman, dan mendukung perkembangan karier.

“Jadi bukan persoalan kantor versus rumah. Yang lebih penting adalah apakah sistem kerja memberikan lingkungan yang mendukung produktivitas, komunikasi, pembelajaran, dan kesejahteraan,” tambahnya.

Menurut Andi, fleksibilitas juga perlu diimbangi dengan kedisiplinan. Ketika seseorang mendapatkan keleluasaan mengatur waktu, tanggung jawab terhadap target pekerjaan tetap harus menjadi prioritas.

“Fleksibilitas tanpa tanggung jawab bisa berubah menjadi masalah. Karena itu, pekerja perlu memiliki kemampuan mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai kesepakatan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa fleksibilitas tidak selalu memberikan dampak positif jika batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Pekerja justru dapat merasa harus selalu tersedia karena pekerjaan dapat dilakukan kapan saja.

“Fleksibilitas yang sehat harus memiliki batas yang jelas. Ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk beristirahat,” tegas Andi.

Dari sisi perusahaan, Andi menilai sistem kerja sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kehadiran fisik, tetapi juga mempertimbangkan hasil dan kualitas pekerjaan. Namun, bentuk fleksibilitas tetap perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing pekerjaan.

“Tidak semua pekerjaan dapat menerapkan pola fleksibel dengan cara yang sama. Yang penting adalah menemukan sistem yang adil bagi pekerja sekaligus sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ujarnya.

Ia berharap perbedaan pandangan mengenai jam kerja tidak menjadi sumber konflik antargenerasi. Generasi yang lebih senior dapat berbagi pengalaman mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab, sementara Gen Z dapat membawa perspektif baru mengenai keseimbangan dan cara kerja yang lebih adaptif.

“Setiap generasi memiliki pengalaman dan konteks yang berbeda. Dunia kerja justru akan berkembang ketika perbedaan tersebut menjadi ruang untuk saling belajar,” pungkas Andi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....