Psikolog Jelaskan Alasan Gen Z Menginginkan Fleksibilitas Kerja

  • 16 Agt 2026 08:17 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Keinginan terhadap fleksibilitas kerja semakin menjadi perhatian dalam dunia kerja modern, termasuk di kalangan Generasi Z. Fleksibilitas dapat berupa pilihan waktu kerja, sistem hybrid, maupun keleluasaan dalam menentukan cara menyelesaikan pekerjaan. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara fleksibilitas kerja dan keseimbangan kehidupan kerja pada pekerja Gen Z di Indonesia.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa keinginan Gen Z terhadap fleksibilitas kerja tidak selalu berarti mereka ingin bekerja lebih sedikit. Menurutnya, fleksibilitas lebih berkaitan dengan kebutuhan untuk memiliki kendali terhadap cara mengatur pekerjaan dan kehidupan pribadi.

“Fleksibilitas memberikan ruang bagi seseorang untuk menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi dan tanggung jawab lainnya. Yang dicari bukan sekadar kebebasan, tetapi kemampuan mengatur waktu secara lebih efektif,” ujarnya pada Jumat (14/8/2026)

Menurut Andi, salah satu alasan Gen Z menginginkan fleksibilitas adalah meningkatnya perhatian terhadap work-life balance. Generasi muda cenderung mempertimbangkan bagaimana pekerjaan memengaruhi waktu istirahat, keluarga, kehidupan sosial, dan pengembangan diri.

Studi terhadap pekerja Gen Z di Indonesia juga menemukan adanya hubungan positif antara fleksibilitas kerja dan work-life balance. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas bukan satu-satunya faktor yang menentukan keseimbangan kehidupan kerja.

“Ketika seseorang memiliki ruang untuk mengatur pekerjaannya, ia bisa lebih mudah menyesuaikan tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi. Tetapi tetap diperlukan kemampuan mengatur waktu dan batasan yang jelas,” jelas Andi.

Ia menambahkan bahwa fleksibilitas juga berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan dari lingkungan kerja. Sebagian pekerja muda ingin dinilai berdasarkan hasil pekerjaan, bukan semata-mata berdasarkan berapa lama mereka berada di kantor.

“Kepercayaan menjadi penting. Ketika target dan tanggung jawab sudah jelas, fleksibilitas dapat memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menemukan cara kerja yang paling efektif bagi dirinya,” tambahnya.

Namun, Andi mengingatkan bahwa fleksibilitas tidak selalu memberikan dampak positif apabila tidak disertai batasan yang jelas. Sistem kerja yang terlalu fleksibel justru dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.

“Ketika pekerjaan bisa dilakukan kapan saja, ada risiko seseorang justru merasa harus selalu tersedia. Karena itu, fleksibilitas harus diikuti kemampuan menetapkan batas waktu kerja,” katanya.

Penelitian mengenai Gen Z dan lingkungan kerja digital juga menunjukkan adanya sisi lain dari fleksibilitas. Meskipun sistem remote dan hybrid menawarkan keleluasaan, sebagian pekerja dapat mengalami kesulitan menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta merasa kurang mendapatkan interaksi sosial.

Menurut Andi, karena itu pilihan terbaik tidak selalu sama bagi setiap individu. Sebagian orang mungkin lebih produktif dari rumah, sementara yang lain membutuhkan interaksi langsung di kantor untuk berkolaborasi dan berkembang.

“Yang terpenting bukan apakah bekerja dari rumah atau kantor, tetapi apakah sistem kerja tersebut mendukung produktivitas, kesehatan mental, komunikasi, dan perkembangan karier,” ujarnya.

Ia juga menilai perusahaan perlu memahami bahwa fleksibilitas bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian dari cara membangun lingkungan kerja yang adaptif. Namun, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan kebutuhan organisasi.

“Gen Z bukan berarti ingin bebas dari aturan. Mereka lebih membutuhkan aturan yang jelas, tetapi tetap memberikan ruang untuk memiliki kendali dan berkembang,” tegas Andi.

Ia berharap perusahaan dan pekerja dapat membangun komunikasi yang terbuka mengenai bentuk fleksibilitas yang sesuai. Dengan demikian, kebutuhan karyawan dan kepentingan perusahaan dapat berjalan secara seimbang.

“Fleksibilitas yang sehat adalah ketika karyawan mendapatkan ruang untuk mengatur cara kerjanya, sementara perusahaan tetap mendapatkan hasil kerja yang sesuai dengan target,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....