Islam Ajarkan Cara Agar Tak Menyakiti, Begini Kata Ustazah Nanik
- 10 Agt 2026 09:02 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Menyakiti orang lain tidak selalu dilakukan melalui tindakan besar. Perkataan yang terlontar tanpa dipikirkan, sikap yang merendahkan, hingga ketidakpedulian terhadap orang di sekitar dapat meninggalkan luka yang tidak mudah dilupakan.
Dalam Islam, menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Rasulullah ﷺ bahkan mengaitkan larangan menyakiti tetangga dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Ustazah Dr. Nanik Nurhayati, M.Pd., mengatakan bahwa Islam telah memberikan tuntunan yang sederhana sekaligus praktis agar seseorang tidak menjadi sumber kesusahan bagi orang lain.
“Jangan sampai lisan kita membuat orang menangis, jangan sampai perbuatan kita membuat orang menderita. Kalau belum mampu memberikan pertolongan, setidaknya jangan menambah kesulitan orang lain,” ujar Ustazah Nanik, Senin, 10 Agustus 2026. Menurutnya, upaya untuk tidak menyakiti orang lain dapat dimulai dari tiga hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yakni menjaga lisan, menjaga perbuatan, dan membangun kepedulian melalui berbagi makanan.
Bunda Nanik, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa lisan merupakan salah satu bagian tubuh yang paling mudah digunakan untuk menyakiti orang lain. Ucapan yang dianggap sebagai candaan, kritik, atau sekadar spontanitas dapat berubah menjadi luka ketika disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang mendengarnya. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk berpikir sebelum berbicara. Apakah perkataan tersebut benar? Apakah bermanfaat? Apakah disampaikan dengan cara yang baik?
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Pesan tersebut diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Hadis itu juga disampaikan bersamaan dengan perintah untuk tidak menyakiti tetangga.
“Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan. Kebenaran tetap harus disampaikan dengan hikmah. Jangan menjadikan kejujuran sebagai alasan untuk berkata kasar,” kata Ustazah Nanik. Menurutnya, menjaga lisan juga berarti menghindari kebiasaan membicarakan keburukan orang lain, membuka aib, menghina, memberi julukan yang tidak disukai, menyebarkan kabar yang belum jelas, serta melontarkan komentar yang dapat mempermalukan seseorang.
Di lingkungan rumah, hal tersebut dapat diterapkan ketika berinteraksi dengan tetangga. Sementara di kantor, menjaga lisan berarti tidak menjatuhkan rekan kerja, menyebarkan gosip, mempermalukan bawahan, ataupun menjadikan kelemahan seseorang sebagai bahan pembicaraan. Selain lisan, seorang Muslim juga dituntut menjaga perbuatannya agar tidak merugikan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Menurut Ustazah Nanik, makna “tidak menyakiti” memiliki cakupan yang luas. Tidak hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga menghindari tindakan yang membuat orang lain kehilangan ketenangan, hak, kenyamanan, maupun kehormatannya. “Kadang kita tidak memukul orang, tetapi kita bisa menyakiti dengan sikap. Misalnya sengaja mengabaikan, mempersulit urusan, mengambil hak orang lain, mengganggu ketenangan, atau menggunakan posisi kita untuk menekan orang lain,” jelasnya.
Ia mencontohkan, di lingkungan tempat tinggal, menjaga perbuatan dapat dilakukan dengan tidak membuat kegaduhan, menjaga kebersihan lingkungan, tidak menghalangi akses tetangga, serta menghormati waktu istirahat orang lain.
| Baca juga: Berikut Ini Cara Muhasabah Diri yang Tepat |
Sementara di lingkungan kantor, menjaga perbuatan dapat diwujudkan dengan tidak menghambat pekerjaan rekan, tidak mengambil hasil kerja orang lain, tidak menyalahgunakan jabatan, serta tidak menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang lain merasa tertekan.
“Ukuran sederhana akhlak kita adalah apakah orang lain merasa aman ketika berinteraksi dengan kita,” katanya.
Islam juga mengajarkan kepedulian melalui makanan. Berbagi makanan menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitar. Menurut Ustazah Nanik, seseorang tidak harus menunggu memiliki makanan berlimpah untuk berbagi. Bahkan sesuatu yang sederhana dapat menjadi sarana mempererat hubungan sosial.
“Berbagi makanan bukan soal mahal atau murah. Yang penting ada kepedulian. Ketika kita memiliki makanan dan kemudian mengingat tetangga, teman kerja, atau orang di sekitar kita, itu menunjukkan bahwa kita tidak hidup hanya untuk diri sendiri,” tuturnya.
Rasulullah SAW juga memberikan perhatian terhadap hubungan sosial melalui makanan. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW memberikan teladan untuk memperhatikan orang yang telah membantu menyiapkan makanan. Beliau bersabda bahwa apabila seorang pembantu membawa makanan, maka ia dianjurkan diberi makanan tersebut, karena orang itu telah mengalami panas dan kesulitan ketika menyiapkannya. Prinsip tersebut, menurut Ustazah Nanik, mengajarkan pentingnya menghargai orang lain dan tidak bersikap egois.
Berbagi makanan di lingkungan rumah dapat dilakukan dengan mengirimkan sebagian makanan kepada tetangga. Di kantor, seseorang dapat membawa makanan untuk dibagikan kepada rekan kerja, terutama ketika ada kesempatan seperti rapat, syukuran, atau sekadar ingin berbagi. Namun, ia mengingatkan agar berbagi tidak dilakukan dengan maksud pamer.
“Berbagi itu bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih mampu. Berbagi adalah bentuk kasih sayang dan kepedulian. Jangan sampai makanan yang kita berikan justru membuat orang lain merasa rendah diri,” ujarnya. Ustazah Nanik menekankan satu hal penting dalam berbuat baik, yakni menjaga perasaan penerima.
Menurutnya, seseorang bisa saja memberikan bantuan, tetapi jika dilakukan dengan cara mempermalukan penerima, maka nilai kebaikan tersebut dapat kehilangan makna akhlaknya. “Kalau kita membantu orang, jangan kemudian bantuan itu diungkit-ungkit. Jangan membuat orang yang menerima merasa dirinya rendah. Kita membantu karena ingin meringankan, bukan ingin menunjukkan bahwa kita lebih tinggi,” katanya. Hal tersebut juga berlaku ketika seseorang berbagi makanan. Memberikan makanan kepada tetangga atau rekan kerja seharusnya dilakukan dengan cara yang santun, tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kemampuan ekonomi.
Ustazah Nanik mengatakan, inti dari ajaran Islam dalam hubungan sosial adalah menghadirkan rasa aman bagi orang lain.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai orang yang membuat tetangganya tidak merasa aman dari gangguan dirinya. Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW bahkan bersabda dengan penekanan yang sangat kuat tentang orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya. “Jangan sampai rumah kita menjadi tempat yang membuat tetangga takut. Jangan sampai kantor menjadi tempat yang membuat teman kerja merasa tertekan karena perilaku kita. Di mana pun kita berada, jadilah orang yang kehadirannya membawa ketenangan,” ungkap Ustazah Nanik.
Menurutnya, seseorang tidak harus menjadi orang yang selalu mampu menyelesaikan masalah orang lain. Namun, setiap orang dapat memilih untuk tidak menjadi penyebab masalah. Jika tidak mampu membantu secara materi, seseorang masih dapat membantu dengan tenaga, waktu, doa, atau sekadar memberikan kata-kata yang menenangkan. “Kalau tidak bisa memberi uang, mungkin kita bisa memberi waktu. Kalau tidak bisa memberi solusi, kita bisa mendengarkan. Kalau tidak bisa membantu, jangan menyakiti. Kalau tidak bisa membuat orang bahagia, setidaknya jangan membuat mereka menangis,” ujarnya.
Ustazah Nanik kemudian mengajak masyarakat menerapkan tiga langkah sederhana untuk menjaga hubungan dengan sesama. Pertama, saring sebelum berbicara. Setiap perkataan perlu dipertimbangkan manfaat dan dampaknya. Jika tidak membawa kebaikan, lebih baik diam. Kedua, pikirkan dampak sebelum bertindak. Jangan hanya bertanya apakah kita boleh melakukan sesuatu, tetapi tanyakan pula apakah tindakan tersebut akan merugikan atau menyakiti orang lain. Ketiga, biasakan berbagi. Tidak harus menunggu kaya. Berbagi makanan, perhatian, waktu, tenaga, dan kepedulian dapat menjadi cara sederhana untuk menumbuhkan kasih sayang di tengah masyarakat.
“Kalau tiga hal ini kita biasakan, insyaallah lingkungan kita akan menjadi lebih nyaman. Lisan terjaga, perbuatan terjaga, dan kepedulian tumbuh,” kata Ustazah Nanik. Ia menambahkan bahwa akhlak yang baik bukan hanya ditunjukkan ketika berada di masjid atau dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga ketika berhadapan dengan tetangga, rekan kerja, bawahan, atasan, keluarga, dan siapa pun yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, tidak menyakiti orang lain bukanlah perkara yang sulit jika dimulai dari kesadaran sederhana: sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan baik, demikian pula kita memperlakukan orang lain. “Jadikan lisan kita sumber kebaikan, tangan kita sumber pertolongan, dan makanan yang kita miliki menjadi jalan untuk berbagi. Jangan menjadi sebab orang lain menangis. Jadilah sebab orang lain merasa aman, dihargai, dan diperhatikan,” pungkas Ustazah Nanik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....