Relasi Iman dan Sikap Sosial Menjadi Fondasi Kehidupan Bermasyarakat
- 20 Jul 2026 13:01 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Keimanan yang kuat tidak hanya tercermin dalam hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, tetapi juga diwujudkan melalui sikap sosial yang baik kepada sesama manusia. Iman yang tertanam dalam hati akan melahirkan perilaku yang penuh kepedulian, kejujuran, keadilan, serta semangat saling menolong dalam kehidupan bermasyarakat.
Seorang ulama di Madiun, Ustaz Dr. Moch. Miftachul Choiri, S.Ag., M.A. mengatakan, Islam mengajarkan bahwa kualitas keimanan seseorang tidak dapat dipisahkan dari akhlak dan perilaku sosialnya.
"Keimanan bukan sekadar keyakinan yang diucapkan dengan lisan atau diyakini dalam hati, tetapi harus tercermin dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain. Semakin kuat iman seseorang, semakin baik pula sikap sosialnya," ujar Ustaz Miftachul Choiri saat menjadi narasumber program Mutiara Pagi RRI Madiun, belum lama ini.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an telah memberikan pedoman mengenai hubungan antara iman dan kehidupan sosial. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa persaudaraan, kepedulian, dan upaya menjaga keharmonisan merupakan konsekuensi dari keimanan seorang muslim. Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 1-7 yang menegur orang-orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan anak yatim dan enggan membantu sesama.
Menurut Ustaz Miftachul Choiri, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah ritual harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial.
Rasulullah SAW juga menegaskan hubungan erat antara iman dan akhlak melalui sabdanya:
"Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis lainnya menyebutkan:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam, memuliakan tetangganya, dan memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut Ustaz Miftachul Choiri, kedua hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran keimanan seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia menjaga lisannya, menghormati tetangga, serta memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang.
Ia menambahkan, masyarakat saat ini menghadapi berbagai tantangan seperti maraknya ujaran kebencian, penyebaran informasi yang belum tentu benar, sikap individualistis, hingga menurunnya kepedulian sosial. Karena itu, penguatan iman menjadi benteng moral agar setiap individu mampu menjaga persatuan dan hidup berdampingan secara harmonis.
"Orang yang benar-benar beriman akan menjunjung tinggi kejujuran, berlaku adil, menjaga amanah, serta tidak menyakiti orang lain. Nilai-nilai itulah yang akan membangun masyarakat yang damai dan penuh keberkahan," jelasnya.
Ustaz Choi mengajak masyarakat untuk menjadikan iman sebagai landasan dalam setiap aktivitas sosial, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, hubungan yang baik dengan Allah (hablum minallah) harus diiringi dengan hubungan yang baik kepada sesama manusia (hablum minannas), karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Masyarakat diajak untuk terus memperkuat kualitas keimanan yang diwujudkan dalam perilaku sosial yang santun, toleran, peduli, dan saling menghargai. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat akan semakin harmonis, persaudaraan semakin kokoh, serta nilai-nilai Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....