Psikolog Jelaskan Fenomena People Pleaser di Kalangan Gen Z
- 31 Jul 2026 18:04 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID , Madiun - Fenomena people pleaser semakin banyak dibicarakan di kalangan Generasi Z. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan kerap mengabaikan kebutuhan dan perasaannya sendiri. Psikolog menilai perilaku tersebut perlu dipahami sejak dini agar tidak berdampak pada kesehatan mental.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa menjadi pribadi yang peduli terhadap orang lain merupakan hal yang positif. Namun, kondisi menjadi berbeda ketika seseorang merasa harus selalu memenuhi harapan orang lain karena takut ditolak, dikritik, atau mengecewakan lingkungan.
“People pleaser adalah kondisi ketika seseorang terlalu mengutamakan kebutuhan orang lain hingga mengesampingkan kebutuhan dirinya sendiri. Mereka sering merasa tidak enak untuk berkata 'tidak' karena khawatir hubungan sosialnya terganggu,” ujarnya pada Kamis 30 Juli 2026.
Menurut Andi, fenomena tersebut cukup sering ditemukan pada Generasi Z karena mereka tumbuh di era media sosial yang penuh dengan penilaian dan validasi. Keinginan untuk diterima dalam lingkungan pertemanan maupun komunitas digital membuat sebagian anak muda berusaha menjaga citra agar selalu disukai.
“Media sosial membuat seseorang lebih mudah melihat respons orang lain terhadap dirinya. Akibatnya, muncul dorongan untuk selalu tampil menyenangkan agar mendapatkan penerimaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola asuh dan pengalaman masa kecil juga dapat memengaruhi terbentuknya perilaku people pleaser. Anak yang terbiasa mendapatkan penghargaan hanya ketika memenuhi harapan orang lain berpotensi membawa pola tersebut hingga dewasa.
“Ketika seseorang terbiasa mengaitkan nilai dirinya dengan penerimaan dari orang lain, ia akan lebih sulit menolak permintaan meskipun sebenarnya merasa keberatan,” tambah Andi.
Menurutnya, terdapat beberapa tanda seseorang memiliki kecenderungan people pleaser, seperti sulit mengatakan "tidak", merasa bersalah ketika menolak permintaan, lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri, serta sering mengorbankan waktu dan tenaga demi menjaga hubungan.
“Jika dilakukan sesekali tentu bukan masalah. Namun jika menjadi kebiasaan, seseorang bisa kehilangan batasan yang sehat dalam hubungan sosial,” katanya.
Andi menjelaskan, perilaku tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental apabila berlangsung dalam waktu lama. Individu berisiko mengalami kelelahan emosional (emotional exhaustion), stres, kecemasan, hingga burnout karena terus berusaha memenuhi ekspektasi banyak orang.
“Tidak sedikit people pleaser yang akhirnya merasa lelah karena terus memberi, tetapi lupa memperhatikan kebutuhan dirinya sendiri,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Andi menyarankan Generasi Z mulai belajar menetapkan batasan (boundaries) yang sehat. Menurutnya, mengatakan "tidak" terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukan bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk menghargai diri sendiri.
“Belajar mengatakan 'tidak' bukan berarti tidak peduli kepada orang lain. Justru itu menunjukkan bahwa kita memahami kemampuan dan batas diri,” tegasnya.
Ia juga mengajak generasi muda membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada penilaian orang lain. Dengan mengenali nilai dan potensi diri, seseorang akan lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata demi memperoleh penerimaan sosial.
“Harga diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyukai kita, tetapi oleh bagaimana kita mampu menerima dan menghargai diri sendiri,” pungkas Andi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....