Psikolog Soroti Fenomena Anxiety Gen Z di Ruang Digital
- 30 Agt 2026 20:18 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun: Perkembangan ruang digital membuat Generasi Z semakin dekat dengan berbagai informasi, komunikasi, dan aktivitas media sosial. Namun, kemudahan tersebut juga dapat menghadirkan tekanan psikologis ketika seseorang merasa harus selalu mengikuti informasi, merespons pesan, hingga mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungan sosialnya.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa kecemasan di ruang digital dapat muncul ketika penggunaan teknologi mulai memengaruhi rasa aman, ketenangan, maupun kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.
“Ruang digital memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama kita terus mendapatkan rangsangan berupa informasi, notifikasi, komentar, dan kehidupan orang lain. Kalau tidak dikelola, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa terus berada dalam tekanan,” ujarnya pada Sabtu (29/8/2026)
Menurut Andi, salah satu faktor yang dapat memicu kecemasan adalah paparan informasi yang terlalu banyak. Gen Z dapat menerima berbagai informasi dalam waktu yang hampir bersamaan, mulai dari berita, tren, pencapaian orang lain, hingga permasalahan sosial.
“Ketika informasi datang terus-menerus, otak seolah tidak mendapatkan kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Kita merasa harus mengetahui semuanya, padahal sebenarnya tidak semua informasi harus kita konsumsi,” jelasnya.
Selain information overload, media sosial juga dapat mendorong terjadinya perbandingan sosial. Melihat teman atau orang lain menampilkan pencapaian, perjalanan, pekerjaan, maupun kehidupan yang terlihat menarik dapat membuat seseorang mempertanyakan kehidupannya sendiri.
“Yang kita lihat di media sosial biasanya adalah bagian yang ingin ditampilkan oleh seseorang. Tetapi kita sering membandingkannya dengan kehidupan kita secara keseluruhan,” tambah Andi.
Ia mengatakan, kondisi tersebut dapat semakin kuat ketika Gen Z merasa harus selalu mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal. Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO menjadi salah satu bentuk tekanan yang muncul dari kebutuhan untuk tetap mengetahui atau mengikuti sesuatu yang sedang dilakukan orang lain.
“FOMO membuat seseorang merasa kalau tidak mengikuti tren atau tidak mengetahui sesuatu, dirinya akan tertinggal dari kelompok. Padahal, setiap orang memiliki kebutuhan dan prioritas yang berbeda,” katanya.
Menurut Andi, kecemasan di ruang digital juga dapat berkaitan dengan kebutuhan mendapatkan validasi. Jumlah likes, komentar, views, atau respons dari pengguna lain terkadang dianggap sebagai ukuran penerimaan sosial.
“Ketika nilai diri mulai bergantung pada respons digital, seseorang bisa lebih mudah merasa kecewa ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan,” ujarnya.
Andi menilai, salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan psikologis di ruang digital adalah membangun kesadaran dalam menggunakan media sosial. Gen Z perlu mengetahui kapan harus mengakses informasi dan kapan memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dari layar.
“Tidak semua notifikasi harus langsung dijawab dan tidak semua informasi harus langsung diketahui. Kita perlu memiliki kemampuan menentukan mana yang penting dan mana yang bisa ditunda,” jelasnya.
Namun, Andi mengingatkan bahwa tidak setiap rasa cemas setelah menggunakan media sosial otomatis menunjukkan adanya gangguan kecemasan. Perasaan cemas merupakan respons yang dapat dialami siapa saja. Yang perlu diperhatikan adalah ketika perasaan tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Kalau kecemasan sudah sangat mengganggu tidur, belajar, pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, jangan hanya mengandalkan self-diagnosis. Sebaiknya mencari bantuan dari profesional,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....